Please Read This!

Thnx for visiting my blog, mohon maaf kalau disana-sini masih terdapat kekurangan. Dan untuk memperbaiki blog ini kedepanya, maka saya memindahkanya ke alamat baru di www.al-mansur.info, saran dan kritikan konstruktif sangat saya nantikan demi kebaikan kedepan. Thnx and happy blogging! www.al-mansur.info

FORMULA RAHASIA BERFIKIR POSITIF

Ubahlah cara berpikir Anda, maka Anda akan dapat mengubah kehidupan Anda, begitu kata pepatah. Pepatah ini juga sudah banyak dijadikan judul buku dan judul artikel. Nah, jika Anda ingin memiliki kehidupan yang sukses dan berbahagia, berpikirlah sukses dan bahagia. Intinya, berpikirlah positif. Bagaimana caranya? Simak formula rahasia berpikir positif berikut.

Kekuatan Berpikir Positif

Mengapa kita harus berpikir positif? Mungkin hal tidak lagi rahasia. Kita perlu berpikir positif agar mendapatkan hasil yang positif? Mengapa bisa demikian?

Melihat positif. Bepikir positif membuat kita fokus pada hal-hal yang positif. Seperti juga pengalaman masa kecil penulis ketika menghilangkan kejenuhan dalam perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Bersama anak-anak lain di dalam mobil, kami berlomba menemukan mobil berwarna merah. Siapa yang terlebih dulu melihat mobil merah, ia bisa menepuk punggung lawannya. Yang menang adalah yang paling banyak menepuk punggung lawannya. Ternyata sepanjang jalan, banyak sekali ditemui mobil warna merah, sehingga kamipun tidak merasa bosan dan tak terasa sudah tiba di tempat tujuan. Pelajaran yang bisa diambil disini, jika kita berpikir positif, kita akan termotivasi untuk menemukan hal-hal yang positif dalam hidup ini. Mungkin saja ada hal-hal lain yang tidak positif, walaupun hal itu harus kita alami juga, tetapi kita tidak akan putus asa, karena fokus perhatian kita jauh melampaui hal-hal yang negatif tersebut kepada hal-hal positif dibalik yang non-positif.


Berbicara positif :

Coba perhatikan dua ucapan di bawah ini. keduanya mengekspresikan ketidakhadiran pada sebuah acara pertemuan yang diusulkan.

"Maaf pak, besok saya tidak bisa ikut menghadiri pertemuan dengan Anda, karena sudah ada acara lain yang sudah terjadwal. Apakah pertemuan bisa kita jadwal ulang?"

"Pak, saya bisa menyediakan waktu khusus untuk pertemuan dengan bapak, pada hari Rabu atau Jum'at. Bagaimana dengan Bapak? Apakah bapak bisa bertemu hari Rabu atau Jum'at?"

Ucapan pertama terlihat lebih fokus pada diri sendiri, dan menomorduakan orang lain. Sedangkan ungkapan kedua terdengar lebih positif, karena lebih fokus perhatian pada lawan bicara, sehingga lawan bicara lebih merasa dihargai. Hasilnya, tentunya lebih positif yang kedua. Jadi, dengan berpikir positif, kita juga terdorong untuk berbicara positif. Kita termotivasi untuk tulus menyampaikan dan mengekspresikan emosi positif kita pada orang-orang sekitar, sehingga merekapun merasa nyaman berada didekat kita karena terhibur dengan kata-kata positif tersebut.

Mendengar Positif :

Berpikir positif juga membantu kita untuk mensortir segala sesuatu yang kita dengar atau membantu kita menyimak segala sesuatu yang kita dengan dengan lebih positif. Coba perhatikan dua komentar berikut mengenai sebuah kuliah yang baru saja dihadiri.

"Ah, kuliah tadi sama sekali tidak menyenangkan, tidak bermanfaat, dan membosankan. "

"Kuliah tadi mengajar saya mengenai hal-hal penting untuk menjadi pembicara yang menarik."

Dengan berpikir positif, kita bisa melihat kesempatan dalam kesempitan, kita bisa menyimpulkan hal positif dari apapun yang kita dengar. Mendengarkan kritikan dan ejekan, bisa memotivasi kita untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri. Mendengar pujian juga memotivasi kita untuk lebih meningkatkan diri. Mendengar penyampaian masalah, kita terpacu untuk melihat kesempatan emas dibalik masalah tersebut.

Bertindak positif :

Tentunya apa yang kita pikirkan itulah yang kita jalankan. Jika kita fokuskan pikiran kita untuk pergi ke Surabaya, maka kita akan tiba di Surabaya. Jika kita fokuskan pikiran kita untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan, maka kita akan mengerahkan seluruh upaya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, dan pekerjaan tersebut pasti akan terselesaikan. Demikian pula jika kita memikirkan hal-hal yang positif, maka kita akan terdorong untuk melakukan hal-hal yang positif, sehingga kita juga pasti akan mendapatkan hal-hal yang psoitif. Seorang wanita yang berasal dari keluarga yang hidup kurang, sejak remaja ingin menjadi dokter, akhirnya karena ia berpikir ia bisa, berbagai kendala dan kegagalan bukan dianggap sebagai kegagalan, karena pikirannya melampaui kegagalan dan masalah, sehingga akhirnya iapun dapat meraih cita-citanya, walaupun ia harus melewati jalan dan perjuangan panjang untuk mewujudkan cita-citanya tersebut.

Berpikir Kreatif :

Ternyata berpikir positif juga mendorong kita untuk berpkir alternatif. Karena fokus kita pada hal-hal yang positif, maka jika perjalanan kita terhalang oleh hal-hal yang non-positif, kita bisa berpikir panjang untuk memutar otak menemukan ide-ide baru, alternatif baru untuk melompati masalah atau tantangan yang menghadang. Jadi, seperti kata pepatah, jika tidak ada rotan, akarpun jadi. Jika satu cara tidak bisa, pasti ada cara lain untuk sukses.



Formula Berpikir Positif

Setelah kita mengenal kekuatan berpikir positif, lalu bagaimana caranya kita mulai berpikir positif.

Self-Talk. Rahasia yang pertama ini diungkapkan oleh Joel Chue, seorang penulis buku `Secrets to unlocking your real potentials. Menurut Joel, di awal hari, sebelum kita memulai berbagai kegiatan kita atau bahkan di hari sebelumnya, kita perlu berkata pada diri kita bahwa hari ini kita akan berpikir positif, bertindak positif, berkata positif, dan meraih hal-hal yang positif. Lalu, kita putar `film kegiatan kita' di hari itu, dan mencoba mencari celah mengenai hal-hal positif apa yang bisa kita terapkan hari itu.

Biasa menjadi luar biasa. Kalau rahasia yang satu ini sudah diungkapkan oleh Howard Schultz yang berhasil menjadikan kedai kopi biasa menjadi luar biasa, bahkan menjadi menggurita di seluruh dunia. Jadi, jika Anda bosan dengan hal-hal yang biasa, coba jadikan luar biasa dengan cara yang berbeda atau untuk tujuan yang berbeda, sehingga hasilnya juga akan secara signifikan berbeda.

Melihat Kedepan. Banyak orang yang menjadi putus asa karena mereka hanya memfokuskan pikiran dan pandangan mereka pada hal-hal yang berada di depan mata mereka saja. Mereka tidak mau menunggu atau mencoba untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda untuk mendapat pandangan yang berbeda, atau melihat dengan lebih luas, sehingga bisa melihat secara lebih lengkap apa yang sedang terjadi, bukan hanya apa yang berada di hadapan mereka. Jika seorang buta hanya memegang ekor gajah yang kecil, maka ia berpikir bahwa yang dihadapannya adalah binatang kecil. Tetapi jika ia mau menganalisa dengan lebih menyeluruh, maka ia bisa menemukan bahwa yang ia hadapai adalah binatang yang besar, yang ada dihadapannya hanyalah sebagian kecil dari tubuh binatang tersebut, yaitu, ekornya yang kecil. Demikian juga dengan kita. Seringkali kita terpana pada kesulitan kecil, kita tidak mau melihat `hadiah' dibalik kesulitan yang sudah menunggu kita. Dengan berpikir positif, kita akan termotivasi untuk melihat jauh kedepan, sehingga kesulitan hari ini tidak akan menjadi batu
sandungan bagi kita untuk maju.

Berpikir Mungkin :

Kata `mungkin' ternyata memiliki kekuatan dahsyat. Dengan berpikir mungkin, kita akan terdorong untuk mencoba, mencari alternatif solusi, dan mencari dukungan yang diperlukan, menggunakan alat atau fasilitas yang bisa kita manfaatkan untuk mewujudkannya. Nah, berpikir mungkin, membuat kita untuk berpikir positif atau berpikir sukses, karena segala sesuatu bisa diraih. Dulu orang akan terbahak jika ada yang menyampaikan ide manusia untuk mendarat di bulan. Tetapi, saat ini, hal itu sudah bukan hal yang mengherankan lagi. Hal ini terjadi karena ada orang-orang yang berpikir `mungkin', lalu mencari cara dan mencoba berbagai cara agar kemungkinan tersebut bisa diwujudkan.

Bagaimana dengan Anda, apakah saat ini mengubah hidup Anda menjadi lebih baik? Maka yang perlu Anda lakukan adalah berpikir lebih baik, atau berpikir positif.

Selamat berpikir positif. Sukses untuk kita semua.

Oleh:
Prof. Dr. Roy Sembel, (Smart_WISDOM@ yahoogroups. com)
Dekan FE Universitas Multimedia Nusantara (www.unimedia. ac.id)
Sandra Sembel, (ssembel@yahoo. com)
Pemerhati SDM dan e-learning

Implementasi Corporate Social Responsibility Melalui e-Learning Berbasis 3G

Corporate Social Responsibility atau lebih terkenal dengan CSR adalah istilah populer yang digunakan untuk mewakili sebuah program bakti sosial sebagai bentuk kontribusi positif dari perusahaan kepada masyarakat. Ada beberapa contoh program CSR yang telah dilakukan beberapa perusahaan ternama di Indonesia belakangan ini. Diantaranya PT Indosat berkerjasama dengan UNDP meluncurkan voucher Mentari Limited Editions bertemakan Voucher Mentari Edisi Anak Indonesia, sebagai bentuk dukungan indosat dalam program Millennium Development Goals (MDGs) yang salah satunya berkonsentrasi pada pembangunan bidang pendidikan. Selain itu PT Indosat juga menyelenggarakan Program Peningkatan Kompetensi Guru IPA dan Matematika bekerja sama dengan Universitas Andalas, Universitas Bung Hatta dan Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat. Kemudian perusahaan lain pelaksana CSR adalah PT. Sampoerna yang membagikan banyak beasiswa pendidikan melalui Sampoerna Foundations, selain itu juga ada renovasi sekolah yang dilakukan oleh BNI dan masih banyak lagi.

Selain PT Indosat, operator telekomunikasi lainya yang identik dengan teknologi tinggi, kreatifitas dan inovasi serta ketersediaan rupiah yang tidak sedikit juga tidak ketinggalan memeriahkan ajang pengabdian kepada masyarakat lewat CSR. Diantaranya PT Telkom yang secara aktif melakukan usaha pemerataan informasi dan penetrasi jaringan internet di sekolah-sekolah yang mempunyai kondisi geografis dan infrastruktur tertinggal. Kerjasama Mobile-8 dengan berbagai institusi pendidikan di Tanah Air, salah satunya adalah akses gratis ke portal dikmenjur bagi seluruh sekolah menengah kejuruan di Pulau Jawa dan akses portal gratis bagi mahasiswa Universitas Jember dalam menunjang program belajar dan mengajar di lingkungan universitas tersebut.

Berbeda dengan operator lainya yang lebih terfokus pada sektor-sektor tertentu, Exelcomindo melakukan program tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat secara lebih general dengan target seluruh lapisan masyarakat dari berbagai macam latar belakang. Misalnya seminar Indonesia berprestasi yang dilaksanakan Xlcare sebagai wujud dukungan terhadap dunia pendidikan di Indonesia dan peningkatan kualitas anak-anak untuk masa depan yang lebih baik. Senimar ini menyuguhkan pengalaman inspiratif dari tim TOFI yang telah disponsori oleh XL dibawah asuhan Prof DR Yohanes Surya Phd, yang berhasil mengharumkan nama Indonesia ditengah bencana yang banyak terjadi, Luar biasa lagi adalah hasil olimpiade Fisika Internasional 37 di Singapura pada Juli 2006. Indonesia merebut juara dunia dengan meraih gelar The Absolute Winner dan 4 emas serta 1 perak. Indonesia menyisihkan lebih dari 83 negara, suatu olimpiade fisika terbesar di dunia. Selain itu hadir juga Prof. Ratna Megawangi Phd, sebagai pendiri Indonesia Heritage Foundation yaitu membangun TK Alternatif Semai Benih Bangsa Berkarakter untuk anak tidak mampu. Kegiatan sosial lain yang telah dilaksanakan XL adalah Bali Re-Found, Pulihkan Jogja Kita dan masih banyak lagi.

Petanyaanya sekarang, apakah Corporate Social Responsibility yang telah dilakukan khususnya oleh Telco Industry telah mencapai titik optimal atau hanya sekedar titik awal dari suatu kontribusi besar bagi kemajuan bangsa Indonesia? Pertanyaan ini hendaknya menjadi pekerjaan rumah bagi para pelaku industri ini. Hanya komitmen dan niat yang kuat yang akan melahirkan kebijakan-kebijakan internal perusahaan yang diharapkan mampu memberi kontribusi positif bagi kemajuan bangsa. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk memberi manfaat lebih bagi masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh pelaku industri telekomunikasi. Kiranya tidak berlebihan jika sektor industri ini di tuntut untuk berbuat lebih dan selalu proaktif dalam meningkatkan volume dan variasi program CSR. Karena operator telekomunikasi di Indonesia mempunyai sumber daya melimpah dengan total pendapatan mencapai sekitar Rp 50 triliun per tahun, yang berasal dari berbagai layanan seperti jasa internet, fixed phone, mobile phone, multimedia dan lain-lain. Salah satu real actions yang dapat dilaksanakan operator telekomunikasi dalam waktu dekat ini dalam mengimplementasikan CSR adalah dengan memanfaatkan 3G sebagai sebuah teknologi potensial yang dapat di explorasi lebih dalam demi kemajuan bangsa oleh operator-operator pemegang lisensi.

Hadirnya 3G di Indonesia.

Hadirnya teknologi selular generasi ketiga (3G) third generation banyak menyedot perhatian sebagian besar masyarakat. Banyak yang menantikan, namun banyak juga yang masa bodoh. Mereka yang antusias menantikan kehadiran teknologi ini meyakini 3G mampu menyembuhkan sempitnya pembuluh data yang diusung oleh teknologi generasi sebelumnya. Tidak salah memang jika sebagian masyarakat penggila teknologi berekspektasi tinggi terhadap 3G, karena teknologi ini memungkinkan penggunanya untuk menikmati pita lebar yang diklaim memiliki kecepatan jauh lebih tinggi dibanding generasi 2G dan 2.5G. Generasi ke-2 atau 2G yang hanya mampu menyajikan kecepatan 9.6 Kbps menggunakan WAP (Wireless Applications Protocol) dan 115 Kbps disediakan oleh GPRS (General Packet Radio Service) yang berasal dari generasi 2.5G. Kecepatan data yang lebih tinggi dari kedua teknologi diatas, yaitu sebesar 384 Kbps sempat dihadirkan oleh EDGE (Enhanced Data Rate GSM Evolutions) sebagai midle generations yang menjembatani evolusi generasi 2G menuju 3G. Adapun 3G sendiri secara teoritis mampu memanjakan penggunanya dengan menyajikan kecepatan transfer data hingga lebih dari 2 Mbps, dengan kecepatan sebesar itu memungkinkan pelanggan seluler untuk menikmati berbagai layanan transfer data berkecepatan tinggi seperti video calling, teleconfrence, video streaming, mobile TV dan tentu saja akses internet berkecepatan tinggi untuk keperluan download dan browsing.

Pada Februari gelaran tender pun digelar oleh pemerintah untuk menentukan operator mana saja yang berhak memperoleh selembar kertas lisensi dari sebuah blok pita frekuensi bernama 3G. Akhirnya terpilihlah tiga operator pemegang lisensi 3G, yaitu Telkomsel dengan penawaran Rp 218 miliar, XL Rp 188 miliar dan terakhir Indosat dengan mengeluarkan kocek sebesar Rp 160 miliar. Jumlah tersebut hanyalah biaya untuk kepentingan memenangkan tender, belum jumlah lebih besar yang harus dikeluarkan untuk investasi pada teknologi ini. XL mengklaim telah berinvestasi sekitar USD 50-100 juta untuk layanan 3G, Telkomsel menganggarkan dana Rp 3 triliun untuk memasang 3000 Base Tranceiver Stations (BTS) dalam kurun waktu 3 tahun kedepan dan akan terus ditambah seiring kebutuhan pasar.

Investasi mahal ini adalah salah satu faktor yang membuat sebagian kalangan merasa pesimis akan masa depan 3G di Indonesia. Karena logikanya investasi yang besar selalu berakibat tingginya tarif dari layanan itu sendiri, apalagi kondisi tersebut didukung oleh tekanan untuk mengembalikan modal investasi yang dikeluarkan dalam batasan waktu. Mengapa? Karena dalam industri ini teknologi selalu berkembang begitu cepatnya, belum memulai untuk mendulang rupiah di negeri ini 3G sudah dibayang-bayangi kehadiran WIMAX atau lebih populer dengan Fourth Generations Technologhy atau 4G, teknologi Broadband Wireless Access (BWA) yang diklaim paling efektif dan efisien. WIMAX dapat melakukan transfer data dengan kecepatan hingga 70Mbps dalam radius jarak 30-50 km dari base stations dalam menyediakan akses broadband bagi pelanggan. Yang cukup membuat 3G gigit jari adalah biaya investasi WIMAX (CAPEX) hanya 1:300 (satu berbanding tigaratus) dibanding biaya investasi 3G. Investasi yang lebih murah ini otomatis akan memberikan tarif yang lebih murah pula bagi layanan WIMAX dibanding 3G nantinya.

Para pengamat memperkirakan dalam 2-3 tahun mendatang orang akan mencoba kehebatan 4G. Dan dalam kurun waktu itulah para operator harus memutar otak untuk mengembalikan investasi yang telah dikeluarkan dan tentu saja mencetak keuntungan. Jangan sampai modal investasi di 3G belum kembali, operator harus berinvestasi lagi di 4G.

Selain masalah investasi hal-hal yang menyuburkan rasa pesimistis akan masa depan 3G di Indonesia oleh berbagai kalangan diantaranya adalah mahalnya Handset yang compatible dengan layanan 3G/UMTS bagi sebagian besar masyarakat, coverage area yang masih terbatas, kurang jelasnya kompatibilitas dalam interkoneksi, dan budaya dari sebagian besar masyarakat sendiri yang sudah merasa cukup dengan layanan voice dan SMS. Sebagai ilustrasi, saat ini pengguna telepon seluler yang hanya menggunakan layanan voice dan SMS saja jumlahnya mencapai 99 %. Dengan pembagian peran kontribusi bagi pendapatan para operator seluler sekitar 70-85 % untuk voice dan 10-25 % untuk SMS, sedangkan yang memanfaatkan layanan data serta content masih berada di bawah angka 5 %.

Lalu apa yang harus dilakukan dengan kondisi pasar seperti sekarang ini? Tentu saja kreatifitas dalam memberikan variasi layanan, intensitas program-program sosialisasi dan edukasi masyarakat ditingkatkan, coverage area yang lebih luas, kualitas layanan yang memuaskan dan tarif yang terjangkau bagi target market di Indonesia yang akan menentukan kehadiran 3G membawa kesuksesan bagi operator penyelenggara atau tidak.

Berikutnya yang perlu difikirkan lebih dalam oleh para operator pemegang lisensi 3G adalah apakah manfaat lebih yang akan didapatkan oleh masyarakat maupun operator dengan digelarnya teknologi ini? Sebenarnya disamping hanya sebagai sebuah komoditi bisnis, 3G mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan dalam kegiatan-kegiatan sosial yang termasuk dalam Corporate Social Responsibility. Karena selain untuk kebutuhan personal, network 3G sebenarnya dapat juga digunakan untuk mempercepat pemerataan informasi serta akses internet sampai ke pelosok-pelosok Tanah Air karena pada dasarnya network ini dapat juga dijadikan network access ke jaringan internet. Masih banyak sekolah serta kampus perguruan tinggi yang belum memadai kualitas akses internetnya. Untuk itu operator 3G juga dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi kesenjangan digital antara sekolah dan kampus di kota-kota besar dengan yang sekolah dan kampus yang berada di daerah.
e-Learning Berbasis 3G.

Salah satu konsep yang ditawarkan dalam pemanfaatan 3G bagi kegiatan sosial adalah pengembangan sistim pendidikan berbasis elektronika yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar secara interaktif tanpa batasan geografis dengan menggunakan sebuah portal yang berisi berbagai referensi ilmu pengetahuan atau lebih dikenal dengan istilah e-Learning. Sistem belajar mengajar ini tidak hanya berkaitan dengan institusi pendidikan namun juga dapat dimanfaatkan oleh kalangan industri

Beberapa perusahaan besar yang ada di Amerika seperti Cisco System, Hewlet Packard, IBM, Oracle memanfaatkan sistem ini sebagai sarana promosi yang sangat efektif dan murah disamping usaha untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia yang menguasai produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Tidak hanya Amerika yang menerapkan sistem ini, beberapa negara Eropa seperti Swedia pun telah cukup berhasil dengan sistem e-Learning ini.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia, apa yang dapat diperoleh masyarakat saat ini dari ketersediaan teknologi, infrastruktur dan dana yang dimiliki oleh para pelaku industri telekomunikasi. Seperti diungkapkan diatas bahwa pada dasarnya network 3G dapat juga dijadikan network access ke jaringan internet yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Penerapan teknologi internet di bidang pendidikan dan pelatihan sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan di Indonesia yang wilayahnya tersebar dan terpisah secara geografis. Sehingga diperlukan solusi yang tepat dan cepat dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan mutu pendidikan sekarang. Dengan adanya aplikasi pendidikan jarak jauh yang berbasiskan internet, maka ketergantungan akan jarak dan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pendidikan dan latihan akan dapat diatasi, karena semua yang diperlukan akan dapat disediakan secara online sehingga dapat diakses kapan saja. Begitupun manfaat yang akan dirasakan oleh dunia industri, terutama perusahaan-perusahaan besar dimana cabang-cabang perusahaan banyak tersebar di dalam dan luar negeri. Dengan menerapkan e-Learning perusahaan dapat menghemat biaya akomodasi bagi karyawan peserta training dan pelatihan, karena dapat dilaksanakan dari mana saja dan kapan saja secara interaktif dan real time.

Media Internet

WWW (World Wide Web) merupakan salah satu tekonologi berbasis HTTP (HyperText Tranfer Protocol) yang telah berkembang sejak lama dan yang paling umum dipakai dalam pelaksanaan pendidikan dan latihan jarak jauh (e-Learning). Teknologi ini memungkinkan dibuatnya sebuah website yang berfungsi sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar dan warehouse dari semua bahan-bahan pembelajaran. Secara umum aplikasi di internet terbagi menjadi 2 macam, yaitu :

  • Synchronous System : Aplikasi yang berjalan secara waktu nyata dimana seluruh pemakai bisa berkomunikasi pada waktu yang sama, contohnya: chatting, Video Conference, dsb.
  • Asynchronous System : Aplikasi yang tidak bergantung pada waktu dimana seluruh pemakai bisa mengakses ke sistem dan melakukan komunikasi antar mereka disesuaikan dengan waktunya masing-masing, contohnya: BBS, e-mail, dsb.

Untuk mencapai efektifitas maximal sistem pendukung e-Learning berbasi web dengan akses internet menggunakan 3G, idealnya dilakukan penggabungan antara sistem synchronous atau asynchronous, karena pada dasarnya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Dengan hadirnya 3G sebagai sebuah teknologi berkemampuan transer data dalam kecepatan tinggi akan sangat memungkinkan penerapan teknologi real time multimedia seperti video conference, video phone untuk kepentingan proses belajar-mengajar melalui e-Learning.

Nilai tambah lain dalam realisasi e-Leraning berbasis 3G adalah keleluasaan bergerak bagi para siswa maupun karyawan dalam men-download content dari Internet secara cepat, kapan saja dan dimana saja. Hal itu semakin dipermudah dengan tersedianya handset yang dilengkapi dengan fasilitas aplikasi mobile office dipasaran.

Pada akhirnya manfaat besar yang diharapkan dapat diperoleh adalah pemerataan informasi bagi segenap elemen bangsa dengan tersedianya infrastruktur yang memadai, sehingga program pencerdasan bangsa akan lebih cepat terealisasi. Tentu saja jika para pemegang dan pemilik sumber daya potensial seperti operator telekomunikasi misalnya mau mengulurkan tangan dan membantu bangsa ini menuju ke kondisi yang lebih maju. Seperti di ceritakan diatas, langkah yang diambil oleh Mobile-8 sebagai operator CDMA baru, misalnya, walaupun lisensinya bukan 3G, mungkin patut mendapat perhatian. Karena perusahaan ini secara aktif menjawab kebutuhan yang diharapkan oleh masyarakat. Langkah ini juga sudah sepatutnya diikuti oleh operator lain yang memang memiliki sumber daya potensial dalam wujud pengabdianya kepada masyarakat melalui Corporate Social Responsibility.

Pelaksanaan CSR akan sangat menguntungkan untuk dilakukan oleh peusahaan-perusahaan besar karena selalu membawa dua kebaikan, terjadinya simbiosis mutualisme yang saling memberi insentif bagi kedua belah pihak. Insentif bagi masyarakat, tentu saja dampak positif dari CSR pada segala bidang, sedangkan bagi perusahaan sendiri kredibilitas dan kepercayaan masyarakat akan semakin besar dan bukan tidak mungkin akan berpengarus positif bagi kemajuan perusahaan. Selain itu menurut David Vogel dalam buku karanganya yang berjudul The Market for Virtue, The Potentials ans Limits of Corporate Social Responsibility mengatakan bahwa bagi perusahaan transnasional CSR sangat mengungtungkan untuk menjaga image dan kredibilitas dari serangan kampanye-kampanye negatif para aktivis.

Mengambil langkah-langkah strategis, jelas, berani dan bermanfaat langsung bagi masyarakat pada awal pengenalan layanan ini hendaknya menjadi pertimbangan utama oleh operator penyedia layanan 3G. Jika tidak, layanan 3G hanya akan menjadi fitur yang tidak termanfaatkan dan hanya menjadi bahan diskusi para pakar serta praktisi telekomunikasi tanpa jelas wujud dan bentuknya di tengah-tengah masyarakat. Tanpa kreatifitas dan inovasi tinggi, operator pemegang lisensi tidak akan mampu berharap banyak dari keberhasilan 3G. dan bukan tidak mungkin karena tarif yang terlalu mahal ditambah dengan coverage area terbatas dan kualitas yang kurang memuaskan, masyarakat akan bersabar menunggu kehadiran 4G yang sebentar lagi akan diperlihatkan kemampuanya oleh Samsung dalam ajang Samsung 4G forum di pulau Jeju Korea.

GOOD GOVERNANCE

MENYONGSONG TAHUN 2008 DENGAN BERBEKAL GOOD GOVERNANCE

Mas Achmad Daniri
Ketua Komite Nasional Kebijakan Governance
www.governance- indonesia. com

Tahun 2007 hanya tinggal menghitung hari, dan siap atau tidak tahun 2008 sudah berada di ujung mata. Untuk sebagian orang, pergantian tahun merupakan saat yang dinanti-nanti, dan dirayakan dengan penuh suka cita. Sebagian lagi masih diliputi tanda tanya bagaimana kondisi negara ini dan juga pengaruhnya pada bisnis mereka, atau ekonomi Indonesia secara umum.

Tentu mau tidak mau kita harus siap menyongsong dan menjalani tahun 2008, namun ada baiknya kita belajar dari apa yang terjadi selama 365 hari kemarin, supaya kita bisa lebih bersiap diri dalam menghadapi segala tantangan dan meraih kesempatan. Maka, sebelum mengintip seperti apa perkiraan situasi bisnis di tahun 2008, mari kita sejenak melihat apa saja yang sudah terjadi dengan Indonesia di tahun 2007.

Kita semua tahu bahwa untuk dapat menciptakan situasi usaha dan pasar yang efisien serta transparan, perlu didukung dengan penerapan Good Corporate Governance yang konsisten, serta membutuhkan keterlibatan dan dukungan penuh dari para pelaku usaha, Negara dan juga
masyarakat. Jadi kunci dari kondisi usaha yang baik adalah kalau semua pihak yang terkait menerapkan Good Governance.

Kenapa begitu? Karena hanya dengan penerapan Good Governance yang konsisten, maka Negara dan perangkatnya bisa menciptakan peraturan perundangan yang menunjang iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan, serta melaksanakan peraturan perundangan tersebut dan menegakkan hukum secara konsisten; pelaku usaha menerapkan Good Corporate Governance dengan dilandasi etika bisnis yang baik; serta masyarakat bisa menunjukkan kepeduliannya dan kontrol sosial secara obyektif dan bertanggung jawab terhadap aktivitas bisnis dan juga pemerintahan. Maka, coba kita lihat bagaimana penerapan Good Governance di Indonesia selama setahun terakhir.

Awal tahun ini, Komite Nasional Kebijakan Governance telah menyempurnakan Pedoman Umum Good Corporate Governance dan merintis pembuatan Pedoman Good Public Governance (Combined Code) yang pertama di Indonesia, dan mungkin bahkan di dunia. Ini merupakan sebuah terobosan dan bukti kepedulian terhadap penciptaan kondisi usaha yang lebih baik dan menjanjikan di Indonesia, jika diterapkan dengan konsisten.

Pemerintah melalui perangkatnya juga terlihat melakukan banyak pembenahan untuk memperbaiki citra pemerintah dan keseriusannya dalam meningkatkan praktik good public governance di Indonesia. Walaupun masih banyak pekerjaan rumah, terlihat bahwa melalui pemberdayaan Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Pemberantasan Korupsi, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Kejaksaan Agung, dan juga Kepolisian; telah cukup banyak temuan dan kasus-kasus yang diangkat ke permukaan dan diterapkan enforcement atas para pelanggar tersebut. Ini merupakan bukti adanya akuntabilitas Pemerintah dalam melakukan pengelolaan negara dengan baik, serta keterbukaan kepada Publik terhadap kasus-kasus yang ada. Tentunya juga sebagai bentuk consistent law enforcement, kondisi ini juga memberikan pelajaran bagi para penyelenggara negara dan pihak lain yang ikut serta dalam melakukan praktik kolusi, korupsi dan nepotisme. Juga memberikan efek jera bagi yang lainnya untuk tidak melakukan hal serupa, karena ternyata akan ada ganjaran yang diberikan yang disebabkan tindakan merugikan rakyat. Selain itu, juga kita lihat adanya pembersihan yang dilakukan di berbagai departemen, sudah bukan rahasia lagi bahwa pimpinan departemen berusaha untuk mencari orang-orang bersih yang ditempatkan sebagai jajarannya, dan merotasi serta memutasi mereka yang selama ini terkenal tidak clean. Seperti telah diungkapkan sebelumnya, memang apa yang dilakukan di Indonesia masih jauh dari sempurna, dan masih banyak mereka yang melakukan penyimpangan, tapi setidaknya, masih ada orang-orang yang memiliki integritas untuk melaksanakan amanah rakyat dalam mengelola negara ini.

Masyarakat juga semakin kritis. Kalau dulu lebih banyak yang bungkam, kini kita lihat bahwa rakyat sudah semakin sadar akan apa yang terjadi di negara ini. Kritisi mengenai pemerintah, pola penyelenggaraan yang terkadang memang belum pas di hati rakyat, serta kritisi yang ditujukan kepada para pelaku usaha yang jelas-jelas melanggar praktik governance yang baik, berbisnis tidak etis dan melupakan kewajiban-kewajiban nya pada negara serta pada rakyat sekitarnya.

Secara riil, melihat data investasi yang masuk ke Indonesia selama tahun 2007 ini, ada perkembangan yang cukup luar biasa dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu terjadi peningkatan 100% pada realisasi PMA, dengan nilai realisasi investasi yang sudah menembus 9 juta dolar US. Melihat kondisi diatas, tentunya kita berpikir bahwa negara telah berusaha untuk mereformasi diri secara positif, apalagi dimana-mana kita dengar bahwa para penyelenggara negara kita berjanji untuk bekerja dengan bersih, bertanggung jawab semata-mata untuk kepentingan rakyat. Di lain pihak, para pelaku usaha juga berlomba-lomba untuk menunjukkan kepada publik, dan investor khususnya bahwa pengelolaan perusahaan dilandaskan pada prinsip-prinsip GCG. Tapi kenapa, penilaian dari lembaga-lembaga internasional, sepertinya tidak ada perubahan yang signifikan didalam menerapkan Good Governance secara konsisten, yang tentu saja berdampak pada kondisi usaha yang sehat di Indonesia. Apakah praktik yang baik ini baru sebatas pembicaraan manis saja? Atau dengan kata lain, perilaku yang ada belum menjadi bagian hidup para insan, khususnya penyelenggara negara dan pelaku usaha, di Indonesia.

Sebuah survey yang dilakukan oleh World Bank di tahun 2007 menunjukkan ada perbaikan dalam situasi bisnis di Indonesia, misalnya pada pembentukan usaha baru, disebutkan bahwa Indonesia telah menunjukkan adanya reformasi positif, dengan percepatan pemberian persetujuan pemberian lisensi usaha dari Departemen Kehakiman, dan juga simplifikasi persyaratan usaha. Selain itu, kini Indonesia juga telah melakukan pencatatan semua kreditur dalam "credit registries", dan memperbesar pagu kredit hampir 5 kali lipat, ini tentunya akan memudahkan para entrepreneur untuk menambah modal usahanya tapi juga menjaga terhadap risiko pemberian kredit bermasalah. Dan juga ada perbaikan dalam peng-eksekusi- an kontrak di Indonesia. Walaupun demikian, dalam urutan peringkat kita malah menurun, dari total 175 negara, kita ada pada posisi 135, turun 4 peringkat dibanding tahun lalu. Dari sini bisa disimpulkan bahwa penerapan governance yang baik di Indonesia sudah ada kemajuan, namun negara-negara lain nampaknya berlari lebih cepat dibandingkan Indonesia, karena mereka yakin dengan upaya demikian, mereka unggul dalam menarik investasi.

Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa kunci pertumbuhan usaha yang berkelanjutanadalah penerapan Good Corporate Governance, sekarang marilah kita lihat juga survey yang dilakukan oleh ACGA (Asian Corporate Governance Association) tentang praktik corporate governance di Asia, termasuk di Indonesia. Dalam survey tersebut, disebutkan bahwa penerapan indikator-indikator Good Corporate Governance di Indonesia ternyata semuanya berada dibawah rata-rata. Indikator ini meliputi prinsip dan praktik governance yang baik, penegakkan peraturan, kondisi politik dan hukum, prinsip akuntansi yang berlaku umum, serta kultur.

Dalam laporan itu disebutkan ada beberapa hal yang baik di Indonesia. Pertama, walaupun kondisi pelaporan keuangan di Indonesia masih belum memadai, tetapi ternyata kualitas pelaporan keuangan kuartalan cukup bagus. Selain itu, ternyata Indonesia juga memiliki kerangka hukum yang paling strict dalam memberikan perlindungan untuk pemegang saham minoritas, khususnya dalam pelaksanaan pre-emptive rights (hak memesan efek terlebih dahulu). Dan ketiga, gerakan anti-korupsi yang dilakukan Pemerintah, kini telah menunjukkan hasil yang cukup positif. Ditambah lagi, penyempurnaan Pedoman Umum Good Corporate Governance, dan Pedoman GCG Sektor Perbankan yang dilakukan di Indonesia. Namun, lagi menurut laporan tersebut, memang belum banyak yang percaya bahwa Pemerintah cukup serius mendorong penerapannya. Lebih lanjut, walaupun sudah ada program anti-korupsi, nampaknya saat ini Pemerintah masih menghadapi problem kredibilitas. Kekecewaan akan kredibilitas Pemerintah ini terdengar sekali gaungnya di pasar, dan terefleksikan dari kualitas pelaporan keuangan yang masih rendah, tingkat pengungkapan yang rendah mengenai kejadian-kejadian penting yang dapat mempegaruhi kondisi usaha serta kepemilikan saham Direksi dan Komisaris, masih terbukanya peluang melakukan insider trading, rendahnya keterlibatan investor, sikap antipati dan juga sikap skeptis yang ditunjukkan oleh sebagian perusahaan terhadap penerapan Good Governance. Semua ini sangat tidak membantu perbaikan usaha, apalagi tingkat penegakkan hukum yang masih dirasakan lemah, serta masih adanya regulator yang tidak independen dalam melaksanakan perannya.

Jadi bagaimana kira-kira situasi dan kondisi di tahun 2008? Tentu tidak akan ada perubahan atau bahkan memburuk, jika kita sudah merasa puas dengan apa yang kita capai sekarang, dan hanya duduk berpangku tangan, karena merasa semua pihak telah cukup melakukan perbaikan yang diperlukan.

Perlu diingat bahwa Good Governance bukanlah euphoria sesaat. Tidak sekonyong-konyong, kita sering mendengar sepertinya semua pihak sepakat bahwa Good Governance itu penting dan berjanji untuk menerapkannya. Namun jika tidak ada tindak lanjutnya... .. berarti kita tidak peduli dengan apa yang akan kita alami.... mungkin the 2nd crisis? Kalau ingin ada perbaikan dalam kondisi bisnis dan kondisi negeri ini secara umum, kita semua harus terus berperan dalam memperbaiki perilaku kita dalam berusaha dan dalam mengelola negara ini. Karena perubahan menjadi sesuatu yang lebih baik tidak terjadi dalam semalam. Harus ada usaha, komitmen dan kesungguhan yang terus-menerus dilakukan secara berkelanjutan. Tentu memerlukan juga perubahan sudut pandang dari diri kita masing-masing mengenai apa yang dimaksud bekerja dengan integritas.

Mengapa Good Governance menjadi begitu penting untuk bisa memperbaiki kondisi Indonesia? Ada beberapa alasan. Belajar dari krisis ekonomi, bad Governance menyebabkan beban bagi APBN, baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran, tidak cukup mampu untuk menggerakkan roda perekonomian. Daya saing kita juga menjadi sangat lemah, dan tidak cukup mampu untuk menarik investasi. Suburnya KKN juga menghambat pemerataan kesempatan berusaha. Oleh karena itu, kedepan, kita tidak punya pilihan selain berbisnis dan bekerja dengan mewujudkan lingkungan usaha yang sehat, tanpa korupsi dan tanpa suap. Karena lingkungan usaha yang sehat dan tingkat aktivitas negara dalam memerangi korupsi masuk dalam 10 indikator utama yang dijadikan pertimbangan bagi investor untuk berinvestasi. Maka, perlu ada consistent law enforcement dan implementasi Good Governance secara bersama-sama, baik di sektor korporasi maupun di sektor publik. Sesungguhnya inti dari persoalan-persoalan bangsa yang tak kunjung tuntas adalah masalah governance, jika kita tidak mengobati akar persoalannya jangan harap kita dapat mengatasinya secara tuntas.

Bagaimana kita bisa memperbaiki kondisi kita di 2008? Ada beberapa faktor yang bisa menjadi pemicu untuk perbaikan ekonomi. Pertama, Hukum – dengan adanya kerangka hukum yang baik dan memadai untuk menciptakan iklim usaha yang sehat, serta didukung dengan penerapannya secara konsisten, termasuk pemberian sangsi bagi mereka yang melanggar, maka akan ada dorongan regulasi (regulatory driven) yang memaksa semua pihak untuk patuh (comply). Kedua, Ekonomi – disini lebih menekankan pada kinerja pasar, dimana masyarakat dan investor menilai sebuah perusahaan dari kinerja (performance) , jika ada dorongan pasar (market driven) maka akan terbentuk sebuah sistem di pasar yang secara otomatis akan memberikan penghargaan dan penilaian yang lebih tinggi pada perusahaan yang terbukti menerapkan GCG dan memiliki kinerja baik, juga menghukum mereka yang tidak, dengan terefleksikan pada penurunan harga saham perusahaan, atau penurunan kepercayaan investor dan masyarakat internasional kepada suatu negara. Dan, ketiga adalah Etika – dimana untuk ada dorongan etika (ethics driven) dibutuhkan adanya kesadaran dari semua pihak untuk berperilaku, berusaha, serta bekerja dengan etika (conformance) . Ethics driven dapat diumpamakan sebagai kasta tertinggi, karena penerapan Good Governance bukan lagi karena ada peraturan yang mengharuskan, atau karena jika tidak dilakukan, maka kita tidak dianggap sebagai perusahaan atau tempat berusaha yang menarik lagi – namun, penerapan Good Governance jika didorong oleh ethics driven, merupakan sesuatu yang diterapkan karena pihak-pihak yang terkait sadar bahwa hal itu memang diperlukan sebagai perwujudan pertanggung jawaban dan amanah yang diberikan, serta hanya dengan penerapan Good Governance yang berkelanjutan, maka kita dapat berkembang dengan sehat.

Idealnya, penerapan Good Governance perlu ketiga dorongan tersebut secara bersama-sama. Dalam masyarakat yang maju, dorongan regulasi hanya dibutuhkan untuk mengatur aspek transparansi dan fairness guna mewujudkan iklim bisnis yang sehat, selebihnya diserahkan pada dorongan pasar dan dorongan etika. Namun, untuk situasi di Indonesia saat ini masih belum optimal untuk memungkinkan kondisi tersebut terjadi. Saat ini sepertinya kita harus sadar diri, bahwa kita masih perlu memfokuskan pada compliance, sehingga dorongan regulasi termasuk penegakkannya masih menjadi faktor utama keberhasilan penerapan governance yang baik di Indonesia.

Di Indonesia, kita memiliki banyak sekali Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang cukup memiliki dampak terhadap kondisi ekonomi, dan Pemerintah sangat berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap cara perusahaan tersebut dijalankan. Selain itu, terdapat korelasi antara mereka yang memiliki kekuatan politis dan duduk dalam Pemerintahan serta Birokrasi, dengan mereka yang memiliki kekuatan ekonomis. Umumnya kedua pihak tersebut cenderung untuk mendukung dan membela satu sama lain, khususnya jika ada ancaman terhadap posisi mereka. Pada situasi seperti ini, banyak yang lupa bahwa mereka berada disana untuk memastikan adanya sistem yang baik yang bertujuan untuk membela kepentingan publik dan mensejahterakan rakyat. Dengan kondisi seperti ini, sepertinya masih sulit untuk bisa menciptakan market driven dan ethics driven yang cukup kuat.

Kalau kita perhatikan, secara umum, sektor usaha di Indonesia yang paling concern dalam menerapkan Good Corporate Governance adalah perbankan. Kenapa begitu? Karena BI punya aturan khusus yang mengatur GCG perbankan, dan ada program monitoringnya setiap tahun, serta memberikan sangsi jika ada bank yang tidak mematuhinya. Hasilnya, penerapan governance yang baik di perbankan jauh lebih merata dibandingkan sektor lain. Di sektor lain ada yang memperoleh peringkat cukup tinggi sesuai standar internasional, namun gapnya masih sangat lebar dibanding sesama perusahaan di dalam sektornya masing-masing.

Di beberapa negara lain yang sudah lebih maju dalam reformasi praktik governance yang baik, kita lihat juga bahwa banyak peranan SRO (misal: Bursa Efek), yang mengatur para perusahaan publik untuk menjalankan bisnisnya dengan etika melalui penerapan GCG. Peraturan yang mereka terbitkan antara lain mewajibkan emiten untuk menerapkan GCG sesuai pedoman standar nasionalnya, dan mempublikasikan perkembangan penerapannya di laporan tahunan, agar publik bisa melakukan penilaian, dan juga ada sangsi bagi emiten yang tidak mematuhi kewajiban tersebut.

Ini sebenarnya bisa jadi contoh untuk Indonesia, kita mulai dari dorongan regulator, sambil terus mengedukasi pebisnis dan masyarakat, secara bertahap bisa tercipta keseimbangan antara dorongan regulasi, dorongan pasar, dan dorongan etika. Sehingga, terdapat kesadaran bahwa setiap pihak punya tanggung jawab untuk bisa mewujudkan kondisi ekonomi yang lebih baik di negara ini. Jadi, jika kita mendambakan iklim bisnis yang kondusif melalui penerapan governance yang baik di tahun 2008 ini? Mudah-mudahan kita semua sadar bahwa kondisi yang baik ini harus diusahakan secara serius, dan tidak akan ada perubahan yang positif jika semua pihak melakukannya dengan setengah hati.

Secara makro ada beberapa reformasi yang juga harus kita lakukan, namun yang utama adalah melakukan perbaikan pada sektor pelayanan publik dan investasi melalui penerapan Good Governance. Pelayanan publik dan investasi saat ini menjadi ranah dimana penyelenggara Negara berinteraksi dengan dunia usaha dan masyarakat. Ini berarti, jika terjadi perubahan yang signifikan pada pelayanan publik, maka dengan sendirinya masyarakat luas dapat langsung merasakan manfaatnya. Pelayanan publik dan investasi juga merupakan ranah dimana berbagai aspek Good Governance dapat diartikulasikan secara lebih mudah. Nilai-nilai yang selama ini mencirikan praktik Good Governance seperti efisien, non-diskriminatif, dan berkeadilan, berdaya tanggap, dan memiliki akuntabilitas tinggi, dapat dengan mudah dikembangkan parameternya – serta membuat Penyelenggara Negara maupun swasta bekerja lebih efektif dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Penyelenggara Negara, termasuk lembaga legislatif, eksekutif, yudikatif, dalam menerapkan Good Governance juga harus bersih dan bebas dari korupsi serta berorientasi pada kepentingan publik. Dengan memulai perubahan pada bidang yang secara langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan para pelaku pasar, upaya menerapkan Good Governance akan memperoleh dukungan dari semua pemangku kepentingan. Citra masyarakat mengenai kredibilitas Pemerintah juga dapat membaik. Dukungan ini sangat penting dalam menentukan keberhasilan, karena upaya menerapkan Good Governance membutuhkan stamina dan daya tahan yang kuat.

Bagaimana kita melakukan perbaikan tersebut? Pertama harus disusun roadmap permasalahan governance dan rekomendasi strategis untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Kedua, perlu disepakati dan dimasyarakatkan pedoman pelaksanaan Good Governance yang berlaku secara nasional dan pendekatannya, yang kemudian perlu ditindaklanjuti dengan pedoman sektoral, seperti sektor pelayanan publik dan investasi. Ketiga, perlu dilakukan penyuluhan konsultansi dan pendampingan bagi perusahaan-perusaha an, maupun kantor-kantor Pemerintah yang bermaksud mengimplementasikan Good Governance, dengan melakukan kegiatan assessment, kemudian membangun rambu-rambu pada masing-masing perusahaan atau instansi Pemerintah. Dan kemudian, memperbanyak agen-agen perubah (agent of change) dengan mengembangkan semacam charter member kelompok Direktur dan Komisaris perusahaan, serta charter member bagi kelompok para pejabat publik.

Oleh karena itu, mari kita bangun Indonesia menjadi negara yang lebih baik, dimana kejayaan bukan hanya kebanggaan masa lalu. Selamat menyongsong tahun baru 2008!