Please Read This!

Thnx for visiting my blog, mohon maaf kalau disana-sini masih terdapat kekurangan. Dan untuk memperbaiki blog ini kedepanya, maka saya memindahkanya ke alamat baru di www.al-mansur.info, saran dan kritikan konstruktif sangat saya nantikan demi kebaikan kedepan. Thnx and happy blogging! www.al-mansur.info

Freelance

Tidak punya kantor, tidak punya atasan, tidak punya bawahan. Bebas lepas. Tapi, bukan berarti tidak bisa professional dan menghasilkan duit banyak, lho !

Bagi anda yang menginginkan kebebasan, tidak suka keterikatan dan formalitas, mungkin bekerja sebagai tenaga lepas ( freelancer ) bisa menjadi pilihan. Anda bisa bebas bekerja secara mandiri. Tetapi, mungkin anda masih memandang dengan sebelah mata sistem bekerja lepas. Karena tidak punya kantor dan tidak sedikit yang menggarap ekerjaan di rumah, para freelancer ini memang tidak jarang dianggap setengah pengangguran.

Tapi anda tidak perlu berkecil hati, karena kabarnya, di negara Barat, kini hampir 50% angkatan kerjanya adalah tenaga lepas. Ini bisa menjadi indikasi bahwa kerja lepas pun potensial untuk menjadi salah satu cara berkarya dan memperoleh penghasilan besar.

Ada Pergeseran

Ada pergeseran tegas antara bekerja lepas (freelance dengan bekerja paruh waktu (part time). Untuk lebih mudahnya, mungkin sebaiknya anda memahami dulu apa itu kerja penuh waktu (full time). Jika anda bekerja penuh waktu, maka itu artinya anda karyawan suatu perusahaan tertentu yang punya kewajiban bekerja dari hari Senin hingga Jumat (atau Sabtu), dari awal higga akhir jam kerja.Karena itu, Anda mempunyai hak mendapatkan gaji, memperoleh tunjangan, dan fasilitas sesuai ketentuan perusahaan tempat anda bekerja.

Jika anda bekerja paruh waktu, berarti durasi kehadiran anda di kantor tempat anda tercatat sebagai karyawan tidak penuh. Misalnya, anda hanya mempunyai kewajiban bekerja mulai pukul 09.00 hingga 12.00, tiga kali dalam seminggu. Dalam kondisi ini, anda masih terikat dengan peraturan kantor tersebut, namun hanya digaji berdasarkan durasi waktu atau frekuensi kehadiran anda. Namun, ada beberapa perusahaan tertentu yang memberikan fasilitas-fasilitas untuk para part timer seperti yang didapat karyawan yang bekerja penuh.

Tetapi, jika anda bekerja sebagai tenaga lepas, anda benar-benar bekerja sebagai individu. Jika sebuah perusahaan membeli produk atau memakai jasa anda sebagai freelancer, maka yang akan mereka bayar adalah produk atau jasa yang andaberikan, bukan berdasarkan perhitungan berapa lama atau berapa sering ada bisa hadir di kantor tersebut. Sebagai tenaga lepas, anda tidak bisa menerima tunjangan-tunjangan dan sama sekali tidak terikat berbagai peraturan perusahan. Dengan kata lain, si pengontrak tidak mau tahu bagaimana anda menyelesaikan pekerjaan anda, yang penting anda memberikan hasil kerja sesuai dengan kontrak atau perjanjian yang telah disepakati.

Dalam situs kerjalepas.com dituliskan bahwa pekerjan freelance biasanya berbentuk proyek, yang sering kali ditawarkan dengan sistem tender. Sistem pembayarannya pun biasanya mengunakan sistem borongan, dalam arti tenaga lepas baru dibayar setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. Namun ada juga yang dibayar dengan uang muka terlebih dahulu dan sisanya dibayar setelah pekerjaan selesai dilaksanakan.

Sayangnya, bekerja freelance masih sering dipandang sebelah mata alias tidak keren, dan tidak bonafide. Pasalnya, menurut Andrias Harefa, seorang konsultan pembelajaran dan sales & financial motivator dari lembaga Indonesia School of Life, selama ini hal-hal yang bersifat formal, termasuk pekerjaan, memang dianggap lebih hebat.

Walaupun begitu, Andrias melihat adanya fenomena-fenomena baru beberapa tahun belakangan ini, “ Ada pergeseran dari corporare life ke self life.artinya, apapun yang awalnya diasumsikan harusdikerjakan pada tingkat corporate (perusahaan), dalam intensitas tertentu, kini bisa dilakukan seorang individu secara mandiri. Sekarang lebih banyak orang yang mencari pekerjaan yang bisa memberi banyak keleluasaan baik dari segi waktu, tempat, maupun prestasi.Ini didukung oleh teknologi, misalnya komputer dan internet, yang memungkinkan orang bekerja di rumah tanpa harus datang ke kantor,” tutur Andrias.


Berjiwa Entrepreneur

Kebebasan tampaknya menjadi alasan utama para freelancer. Prinsipnya, work hard, play hard. Maksudnya, antar bekerja dan melakukan kesenangan- kesenangan atau menikmati kehidupan pribadi sesuai keinginan mereka itu seimbang, karena segalanya mereka atur sendiri. Biasanya mereka adalah orang-orang yang ingin bebas berkarya, berekspresi, dan mempunyai dorongan untuk lebih mengembangkan keahlian di bidangnya.

Kebebasan juga menjadi keuntungan yang paling jelas yang bisa diperoleh seorang freelancer. Bebas dari ikatan, rutinitas, dan formalitas. Dia juga bebas mengatur sistem , strategi dan teknik kerja, walaupun dia tetap harus berpegang pada tenggat dan target yang ditentukan oleh pihak penyedia kerja. “Para freelancer itu biasanya orang-orang yang mampu bekerja sendiri dan berani mengambil resiko. Karena itu, biasanya mereka berjiwa entrepreneur,” kata Mira Puspita, Senior Consultant- Experd, sebuah konsultan sumber daya manusia.

Hal itu juga diungkapkan oleh Adrias, “Entrepreneurship atau jiwa wiraswasta, harus dijadikan spirit. Ini membuat anda bebas, kreatif, berani mengambil resiko, dan sensitive terhadap lingkungan sehingga bisa dengan mudah melihat peluang.Jiwa entrepreneur itu bisa dilatih dan dikembangkan, “ kata penulis beberapa buku mengenai motivasi untuk bekerja mandiri itu.


Mengatur “Gaji” Sendiri

Memang , salah satu risiko seorangfreelancer adalah penghasilan yang tidak tentu jumlahnya dan tidak teratur diterimanya. Karenanya, para freelancer butuh siasat pengelolan keuangan yang tepat. Caranya ?

Elvyn G.Masyassya, seorang pengamat dan penasihat investasi dan keuangan, memberi saran untuk anda:


  1. Sebelumnya, anda harus bisa membuat perkiraan berapa kali anda akan memperoleh pendapatan dalam setahun. Sebagai arsitek lepas, misalnya, anda menargetkan akan mendapatkan empat proyek dalam setahun, maka setiap pendapatan dialokasikam untuk kebutuhan anda selama 3 bulan (12 bulan : 4 = 3 bulan). Jadi, kalau pekerja tetap menerima gaji bulanan secara rutin,anggap saja pengalokasian pendapatan inilah “gaji” anda.
  2. Pendapatan yang anda peroleh ini harus dikelola dengan baik. Pada dasarnya, pengelolaan keuangan itu adalah persamaan : pendapatan = konsumsi + tabungan + investasi. Jadi, setiap pendapatan yang anda peroleh sebaiknya dialokasikan untuk ketiga hal tersebut, dengan presentase masing-masing sebanyak 30%. Sisa 10 % sebaiknya anda anggap sebagai simpanan wajib, yang bisa anda gunakan sewaktu-waktu jika ada kebutuhan mendadak, sehingga tabungan anda tidak terganggu. Seorang karyawan masih mungkin mendapat tunjangan kesehatan dari perusahaannya jika ia mendadak sakit. Dan inilah yang bisa anda anggap sebagai tunjangan serupa.
  3. Ada 2 cara yang bisa anda lakukan untuk menaata keuangan anda, yaitu meningkatkan pendapatan atau mengurangi pengeluaran. Jika anda bisa meningkatkan pendapatan, maka pengeluaran anda tidak perlu diutak-atik. Meningkatkan penghasilan pun bisa dengan berbagai cara, misalnya menaikkan honor yang anda minta dari klien, atau memperbanyak proyek yang anda tangani. Tetapi, jika pendapatan tidak meningkat, pengeluaran mesti dibenahi.
  4. Buat neraca keuangan (balance sheet) pribadi berisi catatan asset dan kewajiban yang harus anda selesaikan (utang). Dalam mengelola neraca ini, anda harus membuat target selama 1 tahun, dan ada yan menjadi prioritas utama anda adalah penyelesaian utang (kalau ada). Buat jadwal pembayaran utang.
  5. Buat juga income statement, yaitu catatan akumulasi pendapatan dan biaya-biaya yang harus anda keluarkan dalam kurun waktu tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun.
  6. Mengenai investasi, sebaiknya dilakukan dengan pola diversifikasi, yaitu beberapa jenis investasi yang karakteristiknya berbeda.Salah satunya, pilih investasi yang memberi proteksi, yaitu asuransi.
  7. Akan lebih memudahkan jika pendapatan yang diterima sudah dikurangi pajak.Karena itu, saat bernegoisasi dengan pengontrak, lebih baik anda meminta pendapatan bersih saja.Sebaiknya anda membuat perencanaan keuangan secara periodik sejak awal tahun dan merevisi pling tidak enam bulan sekali. Ini perlu untuk melihat komposisi investasi pengeluaran rutin dan yang perlu direncanakan, kondisi tabungan anda, juga pencapaian target total pendapatan yang anda inginkan.
  8. Jika ingin sukses mengelola uang, anda harus disiplin ! Jika anda disiplin, besar kemungkinan pendapatan anda lebih besar dibnding jika anda bekerja penuh di sebuah perusahan.


Mereka Yang Berprofesi Sebagai Freelancer


ASTERIA ERLANDA, Script Writer

Awalnya, Aster bekerja sebagai wartawan di salah satu majalah remaja.Layaknya pekerja kantoran, Aster harus bekerja dengan jadwal harian yang penuh sejak pagi hingga sore. Ia berhenti karena melanjutkan studi di luar negeri .Ketika kembali ke Indonesia, sebenarnya bias saja Aster kembali bekerja di tempat bekerjanya semula. Tapi, keburu dating tawaran untuk menjadi script writer ( penulis naskah ) kuis di RCTI. Karena menyukai tantangan , Aster segera mencobanya meskipun posisi yangditawarkan hanya sebagai freelancer yang dibayar per episode.Dari penulis naskah kuis, Aster mencoba menerima berbagai order menulis naskah lain, mulai dari advertorial media cetak sampai program televisi, seperti acara kuis Piramida Baru, Kata Berkait dan talk show Perempuan.

Ternyata menurut Aster, bekerja sebagai freelancer lebih sesuai untuk dirinya yang ingin memberikan waktu dan perhatian untuk keluarga. Kalau kerja di kantor, ia harus start dari rumah pukul 7 pagi, dan mungkin baru tiba setelah pukul 6 sore. Menjadi freelancer, ia bebas mengatur waktunya sendiri. Sebagai contoh, untuk program talk show Perempuan , naskah ditulis di rumah dan dikirim ke Metro TV lewat e-mail. Saat syuting berlangsung, Aster hanya butuh waktu sekitar 2,5 jam hadir di studio. Untuk order advetorial yang mendesak, Aster bahkanbisa menyelesaikannnya hanya dalam waktu satu hari.Modal utamanya pun relatif murah : komputer dan akses internet

“ Yang dibutuhkan adalah disiplin diri.Saya tidak boleh bergantung pada mood, bahkan sebaliknya, menurut saya, mood itu harus dibangun, “ kata sarjana komunikasi yang juga lulusan S2 jurnalistik dari Australia itu.

Untuk menjaga hubungan dengan klien, Aster tidak pernah menolak order, sesibuk apa pun dirinya.Dan, demi profesionalisme , ia juga tidak pernah meminta waktu untuk keperluan pribadi, misalnya anak yang sakit, karena ia sangat menghargai jadwal kliennya. Selain itu, agar tulisannya tetap up to date, ia rajin membuka kamus, membca berbagai referensi, koran, dan majalah.Tak heran, reputasi Aster terbilang bagus sehingga namanya kerap direkomendasikan.

Begitu cintanya pada pekerjaan freelance, Aster selalu tegas menolal tawaran untuk bekerja full time. Saya betul-betul ingin menjaga profesionalisme pribadi.Saya tidak mau cheating, bekerja di satu tempat secara full time, dan mencuri-curi waktu untuk freelance di tempat lain, “ ungkapnya.

DONNY A SITUMORANG, Arsitek

Untuk Donny, krisis moneter yangmelanda Indonesia pada tahun 1997 tidak melulu berdampak buruk, malah membuatnya menjadi lebih kreatif dalam berkarya. Akibat krisis moneter itu, ia berhenti bekerja dari salah satu pekerjan konsultan, dan memutuskan untuk menjadi arsitek lepas yang menerima order menggarap proyek rumah tinggal. Di samping alasan krisis, ia juga menganggap menjadi arsitek lepas merupakan perwujudan idealismenya sebagai arsitek. “Kalau ikut orang, saya kurang bisa karena desain diatur oleh perusahaan. Kalau bekerja sendiri, saya bisa jadi bos, tidak perlu diperintah-perintah, “ ujar arsitek lulusan Universitas Diponegoro yag juga tergabung dalam Iaktan Arsitek Indonesia (IAI) itu.

Biasanya, minimal ada satu proyek yang ditanganinya dalam setahun. Satu proyek butuh penyelesaian sekitar 6 bulan. Sebagai arsitek, ia tak hanya mendapat order menggambar desin rumah, tetapi juga membangun dan sekaligus menata interiornya.Untuk itu, ia mendapat bayaran 10% dari total harga proyek, yang pembayarannya diatur dalam beberapa tahap sesuai perjanjian.Selain pengaturan pembayarannya, Donny merasa total pendapatannya tidak jauh berbeda dari arsitek lain yang bekerja di perusahaan. “ Untuk itu , saya harus disiplin dalam mengatur soal keuangan, “ ujarnya.

Persoalan modal menjadi kendala awal yang dirasakan Donny saat mulai bekerja sebagai arsitek freelance.Untuk itu, ia mengaku cukup tahu diri dengan tidak mengambil alih proyek – proyek besar, dan memilih mengambil proyek rumah tinggal kelas menengah. “Yang penting hasilnya memuaskan klien, karena klien yang puas akhirnya akan melakukan promosi dari mulut ke mulut, “ kata Donny.

Setelah merasakan bekerja sebagai arsitek freelance, Donny mengaku tidak lagi tertarik untuk bekerja sebagai arsitek tetap. “ Kecuali untuk proyek spektakuler yang juga menjadi bagian dari idealisme saya, atau sebagai tenaga ahli,” ujarnya.

AISH DAENG RENATA, Dubber

Aish kerap mengisi suara pemeran utama telenovela.Tak jarang suaranya muncul memerankan karakter tokoh film kartun atau tokoh perempuan cantik di film lepas Mandarin di berbagai televisi swasta, juga beberapa iklan.

Bekerja freelance sebagai pengisi suara ( dubber) memang tidak masuk ke dalam rencana kariernya. Sebelumnya, ia pernah menjadi asisten dokter gigi di Semarang. Pertemuannya dengan sutradara Dedi Setiadi yang menawarinya sebagai dubber di Jakarta mengubah langkah wanita yang pernah bergabung dengan sebuah kelompok teater itu.

Setelah berkeluarga danmempunyai seorangputri, kini Aish semakin mensyukuri pilhannya, ‘ Dalam seminggu, selalu dalam beberapa hari kosong. Selain itu, saya tidak terikat. Kalau mau kerja, ya kerja, kalau tidak mau kerja juga boleh. Untuk film serial pun saya masih bisa fleksibel mengukur waktu, “ ujarnya.

Untuk menjadi dubber yangbaik, menurut Aish, dibutuhkan beberapa syarat khusus. Misalnya, kemamupan membaca yang jelas, pemahaman terhadap naskah dan karakter tokoh, suara dengan tenaga yang bagus, dan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar namun tetap komunikatif.

Ia optimis pekerjaannya sebagai dubber lepas memberikan masa depan yang prospektif. Selain penghasilan yang relatif memuaskan, profesinya sebagai dubber juga memungkinkannya berkembang ke jenjang yang lebih tinggi. “ Karier seorang dubber bias meningkat menjadi pengarah dialog, dan selanjutnya bisa bertanggung jawab penuh terhadap pengisian suara suatu film, “ ujar wanita yang selalu berusaha menjaga kualitas dan reputasi kerjanya itu. (Sumber : Majalah Femina).

Kuliah Sambil Kerja (Management Waktu)

Management Waktu

Fenomena kuliah sambil bekerja banyak dijumpai diberbagai negara, tidak hanya dinegara berkembang, negara maju yang telah mapan secara ekonomi juga banyak dijumpai hal serupa. Ada beragam motivasi yang mendasari mengapa banyak sekali mahasiswa kuliah dan bekerja, faktor ekonomi menduduki peringkat pertama sebagai motivator paling ampuh. Mencari pengalaman kerja dan memperluas relasi juga cukup berperan sebagai motivator mengapa mahasiswa memilih kuliah sambil bekerja.

Di Indonesia, kondisi perekonomian yang cukup sulit bagi sebagian lapisan masyarakat mendorong mahasiswa mencari solusi permasalahan finansial yang mereka alami dengan bekerja. Ada sebagian mahasiswa yang memang mempunyai masalah dengan biaya kuliah, sehingga mereka berusaha meringankan beban orang tua dengan bekerja. Namun ada juga mahasiswa yang bekerja dengan alasan kemandirian ataupun sekedar mencari tambahan uang saku seiring kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Apapun motivasinya, tidak ada larangan bagi seseorang untuk kuliah sambil bekerja. Namun, yang menjadi masalah adalah kondisi dimana kuliah sebagai prioritas utama bergeser posisinya menjadi prioritas kedua setelah pekerjaan. Sehingga banyak dijumpai pada kasus-kasus tertentu, kuliah menjadi "keteteran" atau terlantar karena mahasiswa keasyikan bekerja dan tidak mampu mengatur waktu dengan baik.

Berbicara tentang bagaimana me-manage waktu dengan baik, sangat berkaitan dengan tipe pekerjaan yang dipilih. Apakah fulltime work, parttime work, shift work, freelance atau bahkan enterpreanurship?
Fulltime work mengharuskan mahasiswa untuk bekerja dalam jadwal waktu yang pasti, atau lebih terkenal dengan istilah "jam kantor". Untuk tipe pekerjaan seperti ini disarankan kepada mahasiswa untuk memilih program kuliah ekstensi maupun reguler kelas malam, karena program ini lebih memberikan keleluasaan bagi mahasiswa untuk melaksanakan kedua aktifitas tersebut dengan lebih teratur, siang untuk bekerja dan malam untuk kuliah. Tipe berikutnya adalah parttime work dan shift work. Kedua tipe pekerjaan ini mempunyai kemiripan karakter dimana jadwal kerja tidak menentu, bisa diwaktu siang ataupun malam, tergantung schedule maker. Untuk tipe pekerjaan seperti ini, negosiasi dengan atasan atau in charge sangat membantu dalam upaya mencari titik temu antara jadwal kerja dan jadwal kuliah agar tidak saling bentrok. Kerjasama individual dengan rekan kerja atau lebih dikenal dengan istilah "tukeran shift" juga merupakan sebuah solusi untuk mendapatkan jadwal kerja yang lebih fleksibel. Sedangkan untuk tipe freelance dan enterpreanurship lebih memberikan keleluasaan waktu bagi mahasiswa, karena tipe pekerjaan ini tidak mengikat. Sehingga mahasiswa lebih bebas menentukan waktu, kapan harus bekerja dan kapan harus kuliah.
Pada akhirnya apapun tipe pekerjaan dan motivasinya, management waktu yang baik sangat bermanfaat untuk menselaraskan kedua aktivitas tersebut "Ya Kuliah, Ya Bekerja". Tentu saja hal itu tidak cukup tanpa dibarengi oleh keseriusan dan komitmen untuk menempatkan keduanya dalam skala prioritas yang sama. Sah-sah saja setiap orang melakukan berbagai cara untuk mensiasati keadaan yang serba sulit dan untuk dapat survive dalam hidup, selama cara-cara yang dilakukan masih dalam koridor nilai-nilai positif. Baik dilihat dari perspektif agama, hukum maupun kultur sosial Indonesia tercinta. So, keep on working…dude!

Penulis adalah lulusan Universitas Stikubank Semarang, Fakultas Teknologi Informasi, jurusan Teknik Informatika.

TNI Kembali Berpolitik, Ojo Kesusu!

Presiden republik Indonesia yang juga seorang pensiunan militer, Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpesan kepada panglima TNI terpilih Marsekal Djoko Suyanto agar sebaiknya TNI jangan lagi masuk dan terseret kedalam politik praktis, presiden menyadari pada masa transisi seperti ini banyak sekali godaan yang datang kepada TNI untuk kembali terjun kedunia politik. Lebih jauh menurut presiden pemberian hak memilih bagi anggota TNI membawa konsekuensi yang kurang baik, karena menurut presiden politik dipenuhi dengan perbedaan kepentingan antar golongan yang berpotensi memunculkan konflik di tubuh TNI. Dengan kata lain presiden khawatir pemberian hak pilih kepada TNI pada pemilu 2009 akan memecah belah persatuan TNI itu sendiri.

Pernyataan berbeda muncul dari mantan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto yang berpesan kepada Marsekal Djoko Suyanto agar memperjuangkan hak-hak berpolitik TNI dalam Pemilu 2009. Implikasi dari pernyataan ini membawa polemik di masyarakat. Masyarakat khawatir pemulihan hak berpolitik TNI sama halnya dengan pengulangan kembali sejarah kelam kehidupan berdemokrasi, sejarah mencatat salah satu penyebab kegagalan demokrasi di Indonesia adalah partisipasi TNI dalam politik praktis.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan statement Jenderal Endriartono, karena pada prinsipnya demokrasi tidak mengenal pilih kasih terhadap setiap warga negara untuk menggunakan hak politiknya. Jika hak politik tersebut ditiadakan, itu berarti diskriminasi dan pelanggaran hak berpolitik bagi prajurit TNI sebagai warga negara yang sama kedudukannya dengan warga negara lainnya. Jenderal Endriartono yakin pengembalian hak berpolitik TNI pada pemilu 2009 tidak akan memecah belah kesatuan TNI meskipun masing-masing prajurit memilih partai politik berbeda dalam menyalurkan aspirasi politikknya.

Pikiran jernih diperlukan untuk menyikapi permasalahan ini, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan mengembalikan hak-hak berpolitik TNI. Diantaranya adalah kedewasaan dan profesionalitas TNI sebagai institusi pertahanan dan keamanan negara dalam berdemokrasi. Apakah nantinya setelah hak berpolitik TNI yang sejak pemilu tahun 1971 tidak pernah digunakan didapatkan kembali, TNI mampu berperan secara adil, demokratis dan sehat dalam carut marut pentas perpolitikan Indonesia. Atau sebaliknya TNI tidak mampu bersikap netral dalam menggunakan hak pilihnya sebagaimana catatan sejarah hak pilih anggota TNI dipengaruhi oleh sistem komando dari atasan, bukan berdasarkan pilihan hati nurani tiap-tiap individu. Jika hal terakhir ini yang terjadi, maka potensi munculnya konflik bisa datang kapan saja, sebagai akibat terkotak-kotaknya tubuh TNI dan tarik menarik dukungan terhadap masing-masing kontestan di pemilu 2009.

Kekhawatiran tersebut bisa ditepis jika TNI telah memiliki profesionalisme yang tinggi dan tingkat kedewasaan berdemokrasi yang memadai. Yaitu kondisi dimana TNI mampu memposisikan dirinya dalam fungsi dan tugas utamanya sebagai institusi yang mengamankan dan melindungi kesatuan NKRI dari berbagai ancaman baik dari dalam maupun luar negeri.
Sangat tidak bijaksana jika dalam mengambil sebuah kebijakan strategis hanya berdasar kepada perbandingan antara implementasi hak berpolitik tentara di Indonesia dengan tentara dinegara maju. Perlu disadari bahwa kondisi demokrasi dinegara maju telah mengalami proses pendewasaan demokrasi yang sangat panjang dan matang. Kondisi ini berbeda dengan iklim demokrasi di Indonesia dimana sampai hari ini belum menunjukkan tingkat kedewasaan dan pengetahuan demokrasi yang memadai. Isu pelanggaran hak berpolitik juga tidak bisa serta merta dijadikan alasan untuk menghidupkan hak berpolitik TNI. Realitas kondisi kedewasaan berdemokrasi di Indonesia harus menjadi pertimbangan utama dalam mengambil kebijakan agar terhindar dari hal-hal yang berakibat buruk bagi kehidupan berbangsa.

Selain TNI, tingkat kedewasaan berdemokrasi kalangan sipil sebagai partisipan utama dalam kancah politik nasional juga harus dipertimbangkan. Kurang siapnya pihak sipil dalam management institusi politik berakibat begitu mudahnya kalangan TNI diseret masuk kedalam politik praktis dengan asas simbiosis mutualisme. Jika TNI dengan tingkat kedewasaan berdemokrasi yang masih dipertanyakan terseret kembali kedalam politik praktis, maka dapat diprediksikan tugas dan fungsi utama TNI akan berjalan kurang optimal karena TNI terlalu disibukkan dengan berbagai konflik dan masalah politik Fenomena semakin maraknya aksi demonstrasi yang tidak lagi berfungsi sebagai media penyampaian aspirasi tetapi lebih mengarah kepada pemaksaan kehendak dengan dibumbui aksi-aksi anarkisme menunjukkan kurang dewasanya kalangan sipil berdemokrasi. Kalangan elite politik sendiri dalam beberapa tahun terakhir ini belum mampu memberikan contoh keteladanan bagi publik. Para elite lebih disibukkan dengan perselisihan antar individu dan kelompok tanpa adanya penyelesaian yang elegan. Hal itu terdeskripsi dalam berbagai berita dimedia massa dimana antarelite saling melontarkan tudingan dan kritikan-kritikan destruktif terhadap lawan-lawan politiknya terutama kepada pemerintah tanpa dibarengi dengan sumbangsih ide dan pemikiran yang dapat dijadikan solusi bagi permasalahan bangsa. Dengan kata lain kepentingan pribadi atau golongan masih diutamakan diatas kepentingan negara.

Berpijak kepada realitas kondisi tersebut diperlukan kesabaran dan proses pendidikan demokrasi yang panjang bagi sipil dan TNI hingga nantinya tercapai tingkat kedewasaan yang cukup memadai untuk mengembalikan hak berpolitik TNI. Hal yang seharusnya menjadi fokus utama TNI saat ini adalah penuntasan agenda reformasi TNI meliputi reformasi budaya dan reformasi struktur kelembagaan menuju TNI yang profesional. Yaitu TNI yang terdidik, terlatih dengan kelengkapan senjata dan fasilitas yang ideal sesuai kondisi geografis NKRI, taat terhadap kebijakan politik negara yang dilandasi prinsip demokrasi, supremasi hukum, hak asasi manusia, selalu berjalan dalam koridor hukum nasional maupun internasional, serta adanya jaminan kesejahteraan bagi anggota TNI oleh negara.

Jika pernyataan Presiden SBY pada saat pelantikan panglima TNI terpilih dipahami dengan baik oleh publik Indonesia, pengembalian hak berpolitik TNI pada pemilu 2009 bukanlah sebuah keputusan yang bijaksana. Ojo kesusu! Adalah ungkapan dalam bahasa jawa yang bermakna selalu berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil setiap langkah, sangat tepat digunakan untuk menyikapi keinginan berpolitik TNI pada pemilu mendatang. Pengembalian hak berpolitik TNI tanpa terlebih dahulu menuntaskan agenda-agenda reformasi TNI hanya akan memberi peluang terjadinya politisasi TNI pada pemilu. Hak berpolitik TNI hanya dapat dikembalikan pada saat tercapainya sebuah kondisi dimana objektifitas dan independensi prajurit TNI dalam menggunakan hak pilihnya terbebas dari intervensi kekuatan dan tekanan apapun. Namun sayangnya kondisi ideal tersebut belum tampak pada waktu sekarang ini.

Biografi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono adalah Presiden RI ke enam dan Presiden pertama yang dipilih langsung oleh Rakyat Indonesia. Bersama Drs. M. Jusuf Kalla sebagai wakil presidennya, beliau terpilih dalam pemilihan presiden di 2004 dengan mengusung agenda "Indonesia yang lebih Adil, Damai, Sejahtera dan Demokratis", mengungguli Presiden Megawati Soekarnoputri dengan 60% suara pemilih. Pada 20 Oktober 2004 Majelis Permusyawaratan Rakyat melantik beliau menjadi Presiden.

Presiden SBY, seperti banyak rakyat memanggilnya, lahir pada 9 September 1949 di Pacitan, Jawa Timur. Seorang ilmuwan teruji, beliau meraih gelar Master in Management dari Webster University, Amerika Serikat tahun 1991. Lanjutan studinya berlangsung di Institut Pertanian Bogor, dan di 2004 meraih Doktor Ekonomi Pertanian.. Pada 2005, beliau memperoleh anugerah dua Doctor Honoris Causa, masing-masing dari almamaternya Webster University untuk ilmu hukum, dan dari Thammasat University di Thailand ilmu politik.

Susilo Bambang Yudhoyono meraih lulusan terbaik AKABRI Darat tahun 1973, dan terus mengabdi sebagai perwira TNI sepanjang 27 tahun. Beliau meraih pangkat Jenderal TNI pada tahun 2000. Sepanjang masa itu, beliau mengikuti serangkaian pendidikan dan pelatihan di Indonesia dan luar negeri, antara lain Seskoad dimana pernah pula menjadi dosen, serta Command and General Staff College di Amerika Serikat. Dalam tugas militernya, beliau menjadi komandan pasukan dan teritorial, perwira staf, pelatih dan dosen, baik di daerah operasi maupun markas besar. Penugasan itu diantaranya, Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad, Panglima Kodam II Sriwijaya dan Kepala Staf Teritorial TNI.

Selain di dalam negeri, beliau juga bertugas pada misi-misi luar negeri, seperti ketika menjadi Commander of United Nations Military Observers dan Komandan Kontingen Indonesia di Bosnia Herzegovina pada 1995-1996.

Setelah mengabdi sebagai perwira TNI selama 27 tahun, beliau mengalami percepatan masa pensiun maju 5 tahun ketika menjabat Menteri di tahun 2000. Atas pengabdiannya, beliau menerima 24 tanda kehormatan dan bintang jasa, diantaranya Satya Lencana PBB UNPKF, Bintang Dharma dan Bintang Maha Putra Adipurna. Atas jasa-jasanya yang melebihi panggilan tugas, beliau menerima bintang jasa tertinggi di Indonesia, Bintang Republik Indonesia Adipurna.

Sebelum dipilih rakyat dalam pemilihan presiden langsung, Presiden Yudhoyono melaksanakan banyak tugas-tugas pemerintahan, termasuk sebagai Menteri Pertambangan dan Energi serta Menteri Koordinator Politik, Sosial dan Keamanan pada Kabinet Persatuan Nasional di jaman Presiden Abdurrahman Wahid. Beliau juga bertugas sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan dalam Kabinet Gotong-Royong di masa Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada saat bertugas sebagai Menteri Koordinator inilah beliau dikenal luas di dunia internasional karena memimpin upaya-upaya Indonesia memerangi terorisme.

Presiden Yudhoyono juga dikenal aktif dalam berbagai organisasi masyarakat sipil. Beliau pernah menjabat sebagai Co-Chairman of the Governing Board of the Partnership for the Governance Reform, suatu upaya bersama Indonesia dan organisasi-organisasi internasional untuk meningkatkan tata kepemerintahan di Indonesia. Beliau adalah juga Ketua Dewan Pembina di Brighten Institute, sebuah lembaga kajian tentang teori dan praktik kebijakan pembangunan nasional.

Presiden Yudhoyono adalah seorang penggemar baca dengan koleksi belasan ribu buku, dan telah menulis sejumlah buku dan artikel seperti: Transforming Indonesia: Selected International Speeches (2005), Peace deal with Aceh is just a beginning (2005), The Making of a Hero (2005), Revitalization of the Indonesian Economy: Business, Politics and Good Governance (2002), dan Coping with the Crisis - Securing the Reform (1999). Ada pula Taman Kehidupan, sebuah antologi yang ditulisnya pada 2004. Presiden Yudhoyono adalah penutur fasih bahasa Inggris.

Presiden Yudhoyono adalah seorang Muslim yang taat. Beliau menikah dengan Ibu Ani Herrawati dan mereka dikaruniai dengan dua anak lelaki. Pertama adalah Letnan Satu Agus Harimurti Yudhoyono, lulusan terbaik Akademi Militer tahun 2000 yang sekarang bertugas di satuan elit Batalyon Lintas Udara 305 Kostrad. Putra kedua, Edhie Baskoro Yudhoyono, mendapat gelar bidang Ekonomi dari Curtin University, Australia.

Pro Kontra RUU APP

Sabtu 4 maret 2006 yang lalu, harian Suara Merdeka memberitakan tentang demo di Bali yang menuntut penghentian pembahasan RUU anti pornografi dan pornoaksi (APP) yang saat ini sedang di godok oleh DPR. Fenomena ini menunjukkan bahwa saat ini terjadi pertentangan dua buah kepentingan dalam mayarakat yang saling menuntut untuk dipenuhi. Pihak pendukung RUU yang diwakili oleh sebagian masyarakat, LSM dan lembaga keagamaan menuntut agar DPR segera menyelesaikan RUU APP sebagai upaya preventif dan represif terhadap ancaman kebobrokan moral bangsa Indonesia. Di sisi lain pihak penentang yang diwakili sebagian seniman, budayawan dan sebagian kecil elemen masyarakat bersikukuh agar DPR menghentikan RUU tersebut, mereka berdalih RUU tersebut hanya akan mengebiri kreativitas berekspresi dan beraktualisasi diri dalam karya seni.

Sebagian besar pihak penentang RUU APP berpendapat bahwa "Hal-hal yang selama ini dinilai masyarakat sebagai bagian dari pornografi dan pornoaksi adalah murni karya seni dan semua itu tergantung dari cara kita memandangnya". Tidak ada yang salah dengan pendapat itu, hanya saja kurang tepat bila diterapkan dengan kondisi pola berfikir sebagian besar masyarakat saat ini. Karena faktanya, sebagian besar masyarakat masih mengedepankan nafsu dan birahi dalam memandang karya seni yang menampilkan aurat manusia, ketimbang menggunakan perseption of art.

Realitas tersebut mengindikasikan bahwa saat ini masyarakat belum siap dalam menghadapi kebebasan berekspresi dan beraktualisasi dalam seni yang terlalu bebas, mungkin akan berbeda kondisinya bila hal tersebut dilakukan di negara lain. Jika kondisi seperti ini tetap dipaksakan, masyarakat terus saja dijejali dengan suguhan hasil karya pembangkit nafsu berbendera "karya seni", yang terjadi adalah pengaktifan detonator bom waktu degradasi nilai-nilai moral bangsa Indonesia.

Boleh saja kita berekspresi sekreatif mungkin, namun hendaknya tetap arif dan bijaksana dalam menyuguhkan hasil karya yang sesuai dengan realitas kondisi pola berfikir sebagian besar masyarakat agar tidak berdampak negatif pada akhirnya. Ada nilai-nilai religi, social culture bangsa yang harus dikedepankan dalam berkarya. Biarkan DPR bekerja mencari titik temu lewat RUU APP yang mampu menjaga nilai-nilai positif moral bangsa dengan tetap berpegang teguh pada prinsip keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tulisan ini pernah dimuat sebagai Head Line surat pembaca harian Suara Merdeka edisi Minggu, 02 April 2006.

SkripsiPhobia

Selain sebagai salah satu syarat memperoleh gelar kesarjanaan, skripsi adalah salah satu wujud Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian terhadap masyarakat. Karena hasil penelitian skripsi diharapkan mampu diaplikasikan dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Itulah sebenarnya tujuan utama program skripsi diadakan, yaitu memacu kreatifitas mahasiswa untuk selalu berusaha menemukan hal-hal baru ataupun menyempurnakan sesuatu yang telah ada dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang mereka miliki agar memberi manfaat bagi lingkunganya.

Namun, untuk mencapai sebuah cita-cita mulia tidak jarang terbentur dengan banyak persoalan. Tidak sedikit mahasiswa setiap kali mendengar istilah skripsi, yang terbayang dibenak mereka hanyalah sebuah tugas dengan proses panjang dan sulit, birokrasi yang bebelit-belit serta pengeluaran biaya yang tidak sedikit.
Anggapan seperti itu memang cukup beralasan, karena pada kenyataanya dalam menyelesaikan skripsi, mahasiswa harus berhadapan dengan berbagai masalah teknis seperti kompetensi mahasiswa, biaya skripsi, serta birokrasi dan kebijakan dosen yang terkadang mempersulit. Entah dengan alasan idealisme untuk membimbing mahasiswa agar menghasilkan skripsi yang benar-benar baik, atau hanya sekedar alasan subyektif. Realitas tersebut berkembang menjadi sebuah informasi yang kemudian membentuk pola berfikir bahwa skripsi adalah sebuah momok yang menakutkan. Jangankan menyelesaikan seluruh proses skripsi, untuk menentukan ide awal dan judul skripsi saja, tidak sedikit mahasiswa yang sudah kebingungan.

Realitas kondisi dan pola berfikir seperti ini lambat laun mendorong terciptanya niche market atau pasar ceruk yang berubah menjadi peluang bisnis bagi usaha Jasa Pembuatan Skripsi/Tesis. Ironis memang, kondisi saat ini dimana jasa-jasa pembuatan skripsi baik yang ditawarkan oleh individu maupun biro jasa semakin menjamur di lingkungan Perguruan Tinggi. Namun, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan keberadaan mereka. Mereka tumbuh subur dan berkembang adalah konsekuensi dari semakin banyaknya mahasiswa kita yang membutuhkan "bantuan" dalam pembuatan skripsi.

Ada dua faktor yang ditengarai sebagai penyebab mengapa semakin banyak mahasiswa yang memanfaatkan jasa pembuatan skripsi. Pertama adalah inkompetensi mahasiswa dalam mengerjakan skripsi meliputi berbagai masalah teknis, seperti kemampuan menuangkan ide dan pemikiran ke dalam tulisan, teknik pengumpulan data serta metodologi penelitian. Kedua adalah rasa malas atau kurangnya keberanian mengambil resiko untuk bekerja keras, tidak jelasnya standar operanting procedure (SOP) proses bimbingan sehingga tidak jarang mahasiswa menemui kesulitan birokrasi dengan pihak kampus atau dosen pembimbing, serta keberanian dalam adu argumentasi dengan dosen penguji maupun pembimbing untuk mempertahankan pendapat, teori yang didapat dari hasil penelitian dan mempertanggungjawabkanya secara ilmiah. Kedua faktor inilah yang mendorong mahasiswa mengambil shortcut atau jalan pintas menyewa jasa pembuatan skripsi/tesis.

Sebagai sebuah industri dan bisnis yang profesional, jasa pembuatan skripsi menawarkan beragam service kepada customer. Seperti pilihan paket jasa, apakah full package yaitu pembuatan skripsi secara total meliputi training, bimbingan, revisi dan penjilidan skripsi. Atau hanya sebagian, yaitu paket tanpa disertai pencetakan dan penjilidan skripsi. Contoh half package adalah pembuatan software untuk mahasiswa fakultas Teknologi Informasi, urusan menulis, mencetak, mengkopi dan menjilid adalah sepenuhnya tanggung jawab mahasiswa itu sendiri. Pilihan paket menentukan besarnya biaya sewa jasa, semakin lengkap isi paket, semakin tinggi tingkat kesulitan skripsi (biasanya ditentukan oleh bidang studi mahasiswa) maka semakin besar pula kocek yang harus dikeluarkan mahasiswa.

Penggunaan jalan pintas seperti ini bukanlah tanpa resiko, dalam banyak kasus ditemukan mahasiswa mengalami kesulitan bahkan kegagalan dalam sidang ujian skripsi. Mengapa demikian? Perlu diingat bahwa pembuatan skripsi menggunakan jasa orang lain adalah proses instan dimana mahasiswa dituntut menguasai banyak materi dalam waktu yang relatif singkat. Tingkat absorbtion atau penyerapan materi yang buruk karena tekanan dateline, ditambah faktor psikologis seperti guilty feeling menjadikan mahasiswa kurang matang menguasai materi. Akibatnya performa mahasiswa dalam presentasi skripsi dan adu argumentasi dengan dosen penguji menjadi kurang maksimal.

Lalu apa yang harus kita perbuat untuk menyikapi fenomena semakin banyak mahasiswa yang terjebak dalam rasa kurang percaya diri, inkompetensi dan phobia berlebihan terhadap skripsi sehingga sewa jasa adalah jawaban mereka pilih.

Untuk dapat menemukan jawabanya, terlebih dahulu harus dipahami karakter dari industri jasa pembuatan skripsi. Pertama industri ini adalah industri jasa yang bersifat "membantu" dan hampir sama dengan industri jasa bimbingan belajar karena ada proses edukasi terhadap klien penyewa jasa. Hanya perbedaanya terdapat pada unsur penipuan, yaitu membuatkan skripsi yang kemudian dalam proses selanjutnya diakui sebagai hasil karya pribadi mahasiswa. Peran mahasiswa yang semula objek pengguna jasa berubah menjadi subjek yang melakukan penipuan terhadap almamater. Namun, almamater sendiri sebagai pihak tertipu tidak mengalami kerugian apapun. Kerugian hanya terjadi pada diri mahasiswa seperti kurang penguasaan materi, perasaan bersalah dan krisis identitas. Kedua tingkat perkembangan industri ini bergantung kepada banyaknya jumlah permintaan dari pasar. Semakin banyak permintaan maka semakin pesat pula perkembanganya, begitupun sebaliknya.

Jadi cara paling efektif untuk menghapus keberadaan industri jasa pembuatan skripsi adalah dengan cara meminimalisir permintaan pasar. Untuk merealisasikan hal tersebut diperlukan upaya preventif yang mampu mengembalikan nilai-nilai kejujuran dan orisinalitas dalam diri mahasiswa. Upaya-upaya represif hanya dapat dilakukan jika terdapat sebuah kasus plagiasi atau penjiplakan hasil karya intelektual orang lain yang dilakukan para penyedia jasa. Namun hal ini jarang sekali ditemui dilapangan karena pada umumnya penyedia jasa menggunakan ide-ide orisinil yang kenudian dikomersialkan dalam membuat skripsi.

Wujud dari upaya preventif berkaitan dengan faktor internal diri mahasiswa dan faktor eksternal yaitu sistem serta kebijaksanaan kampus. Faktor internal meliputi peningkatan kemampuan menulis, presentasi dan argumentasi mahasiswa dengan cara mahasiswa dibiasakan dengan tugas-tugas membuat artikel atau karangan ilmiah untuk tiap-tiap mata kuliah pada semester awal. Selanjutnya tugas tersebut ditindak lanjuti dengan forum diskusi atau debat kelas untuk membahasnya secara ilmiah. Pada tahap ini idealnya dosen pengajar selalu berperan proaktif seperti menentukan tema, menunjukkan sumber referensi baik itu lewat internet maupun literatur-literatur buku, mengajarkan prosedur, teknis penulisan dan aturan-aturan dalam karangan ilmiah serta menanamkan nilai kejujuran dan orisinalitas yang tinggi dalam diri mahasiswa.

Tahap berikutnya adalah tugas simulasi skripsi yang idealya diberikan pada semester menengah karena biasanya mahasiswa telah mendapatkan teori mata kuliah Metodologi dan Penelitian. Bentuk simulasi sendiri tidak harus sama persis dengan proses skripsi dimana terdapat proses bimbingan, namun lebih ditekankan kepada hal-hal esensial skripsi seperti pembuatan outline dan aplikasi teknik penulisan sesuai dengan aturan dan prosedur yang ditetapkan oleh masing-masing Perguruan Tinggi. Agar mahasiswa tidak terbebani dalam proses edukasi semacam ini, simulasi dapat disinergikan dengan laporan hasil kerja praktek maupun KKN mahasiswa, dan untuk menyelesaikanya tanggung jawab tidak hanya dibebankan pada satu individu tetapi berkelompok.

Setelah semua proses tersebut dijalankan secara baik dan sistimatis, diharapkan akan tercipta mahasiswa dengan karakter mental percaya diri serta didukung oleh tingkat kompetensi dalam tulis menulis dan penelitian yang cukup baik. Logikanya jika kondisi ideal tersebut tercapai dapat memberi dampak signifikan bagi penurunan permintaan jasa pembuatan skripsi, karena pola berfikir mahasiswa yang menganggap skripsi sebagai sebuah momok yang pantas ditakutkan berubah menjadi skripsi adalah hal yang biasa dikerjakan.

Namun, kondisi ideal internal mahasiswa tersebut belum cukup kuat tanpa diimbangi dengan faktor eksternal yaitu kebijaksanaan kampus yang mendukung. Seperti penentuan standar prosedur bimbingan dan birokrasi yang kooperatif alias tidak mempersulit, pengadaan fasilitas yang memadai sebagai infrastruktur pendukung proses penelitian dan sumber referensi penelitian yang lengkap, serta bantuan biaya penelitian bagi mahasiswa yang kurang mampu. Jika semua kondisi ini dipenuhi bukan tidak mungkin kredibilitas institusi pendidikan di Indonesia akan kembali bersinar, tidak tercoreng lagi oleh praktik-praktik kontraproduktif seperti maraknya jasa pembuatan skripsi atau tesis.

Thomas Alva Edison pernah berkata "Untuk mencapai sebuah keberhasilan hanya diperlukan 1% bakat atau ilham, sedangkan 99% lainya adalah kerja keras". Kalau kita petik pesan positif dari kata-kata tersebut, tidak ada alasan lagi untuk malas atau bahkan takut mengerjakan skripsi, selama kita selalu rajin berlatih dan mau untuk bekerja keras niscaya kita akan mampu mencapai suatu hal yang sulit sekalipun.