Please Read This!

Thnx for visiting my blog, mohon maaf kalau disana-sini masih terdapat kekurangan. Dan untuk memperbaiki blog ini kedepanya, maka saya memindahkanya ke alamat baru di www.al-mansur.info, saran dan kritikan konstruktif sangat saya nantikan demi kebaikan kedepan. Thnx and happy blogging! www.al-mansur.info

SkripsiPhobia

Selain sebagai salah satu syarat memperoleh gelar kesarjanaan, skripsi adalah salah satu wujud Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian terhadap masyarakat. Karena hasil penelitian skripsi diharapkan mampu diaplikasikan dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Itulah sebenarnya tujuan utama program skripsi diadakan, yaitu memacu kreatifitas mahasiswa untuk selalu berusaha menemukan hal-hal baru ataupun menyempurnakan sesuatu yang telah ada dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang mereka miliki agar memberi manfaat bagi lingkunganya.

Namun, untuk mencapai sebuah cita-cita mulia tidak jarang terbentur dengan banyak persoalan. Tidak sedikit mahasiswa setiap kali mendengar istilah skripsi, yang terbayang dibenak mereka hanyalah sebuah tugas dengan proses panjang dan sulit, birokrasi yang bebelit-belit serta pengeluaran biaya yang tidak sedikit.
Anggapan seperti itu memang cukup beralasan, karena pada kenyataanya dalam menyelesaikan skripsi, mahasiswa harus berhadapan dengan berbagai masalah teknis seperti kompetensi mahasiswa, biaya skripsi, serta birokrasi dan kebijakan dosen yang terkadang mempersulit. Entah dengan alasan idealisme untuk membimbing mahasiswa agar menghasilkan skripsi yang benar-benar baik, atau hanya sekedar alasan subyektif. Realitas tersebut berkembang menjadi sebuah informasi yang kemudian membentuk pola berfikir bahwa skripsi adalah sebuah momok yang menakutkan. Jangankan menyelesaikan seluruh proses skripsi, untuk menentukan ide awal dan judul skripsi saja, tidak sedikit mahasiswa yang sudah kebingungan.

Realitas kondisi dan pola berfikir seperti ini lambat laun mendorong terciptanya niche market atau pasar ceruk yang berubah menjadi peluang bisnis bagi usaha Jasa Pembuatan Skripsi/Tesis. Ironis memang, kondisi saat ini dimana jasa-jasa pembuatan skripsi baik yang ditawarkan oleh individu maupun biro jasa semakin menjamur di lingkungan Perguruan Tinggi. Namun, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan keberadaan mereka. Mereka tumbuh subur dan berkembang adalah konsekuensi dari semakin banyaknya mahasiswa kita yang membutuhkan "bantuan" dalam pembuatan skripsi.

Ada dua faktor yang ditengarai sebagai penyebab mengapa semakin banyak mahasiswa yang memanfaatkan jasa pembuatan skripsi. Pertama adalah inkompetensi mahasiswa dalam mengerjakan skripsi meliputi berbagai masalah teknis, seperti kemampuan menuangkan ide dan pemikiran ke dalam tulisan, teknik pengumpulan data serta metodologi penelitian. Kedua adalah rasa malas atau kurangnya keberanian mengambil resiko untuk bekerja keras, tidak jelasnya standar operanting procedure (SOP) proses bimbingan sehingga tidak jarang mahasiswa menemui kesulitan birokrasi dengan pihak kampus atau dosen pembimbing, serta keberanian dalam adu argumentasi dengan dosen penguji maupun pembimbing untuk mempertahankan pendapat, teori yang didapat dari hasil penelitian dan mempertanggungjawabkanya secara ilmiah. Kedua faktor inilah yang mendorong mahasiswa mengambil shortcut atau jalan pintas menyewa jasa pembuatan skripsi/tesis.

Sebagai sebuah industri dan bisnis yang profesional, jasa pembuatan skripsi menawarkan beragam service kepada customer. Seperti pilihan paket jasa, apakah full package yaitu pembuatan skripsi secara total meliputi training, bimbingan, revisi dan penjilidan skripsi. Atau hanya sebagian, yaitu paket tanpa disertai pencetakan dan penjilidan skripsi. Contoh half package adalah pembuatan software untuk mahasiswa fakultas Teknologi Informasi, urusan menulis, mencetak, mengkopi dan menjilid adalah sepenuhnya tanggung jawab mahasiswa itu sendiri. Pilihan paket menentukan besarnya biaya sewa jasa, semakin lengkap isi paket, semakin tinggi tingkat kesulitan skripsi (biasanya ditentukan oleh bidang studi mahasiswa) maka semakin besar pula kocek yang harus dikeluarkan mahasiswa.

Penggunaan jalan pintas seperti ini bukanlah tanpa resiko, dalam banyak kasus ditemukan mahasiswa mengalami kesulitan bahkan kegagalan dalam sidang ujian skripsi. Mengapa demikian? Perlu diingat bahwa pembuatan skripsi menggunakan jasa orang lain adalah proses instan dimana mahasiswa dituntut menguasai banyak materi dalam waktu yang relatif singkat. Tingkat absorbtion atau penyerapan materi yang buruk karena tekanan dateline, ditambah faktor psikologis seperti guilty feeling menjadikan mahasiswa kurang matang menguasai materi. Akibatnya performa mahasiswa dalam presentasi skripsi dan adu argumentasi dengan dosen penguji menjadi kurang maksimal.

Lalu apa yang harus kita perbuat untuk menyikapi fenomena semakin banyak mahasiswa yang terjebak dalam rasa kurang percaya diri, inkompetensi dan phobia berlebihan terhadap skripsi sehingga sewa jasa adalah jawaban mereka pilih.

Untuk dapat menemukan jawabanya, terlebih dahulu harus dipahami karakter dari industri jasa pembuatan skripsi. Pertama industri ini adalah industri jasa yang bersifat "membantu" dan hampir sama dengan industri jasa bimbingan belajar karena ada proses edukasi terhadap klien penyewa jasa. Hanya perbedaanya terdapat pada unsur penipuan, yaitu membuatkan skripsi yang kemudian dalam proses selanjutnya diakui sebagai hasil karya pribadi mahasiswa. Peran mahasiswa yang semula objek pengguna jasa berubah menjadi subjek yang melakukan penipuan terhadap almamater. Namun, almamater sendiri sebagai pihak tertipu tidak mengalami kerugian apapun. Kerugian hanya terjadi pada diri mahasiswa seperti kurang penguasaan materi, perasaan bersalah dan krisis identitas. Kedua tingkat perkembangan industri ini bergantung kepada banyaknya jumlah permintaan dari pasar. Semakin banyak permintaan maka semakin pesat pula perkembanganya, begitupun sebaliknya.

Jadi cara paling efektif untuk menghapus keberadaan industri jasa pembuatan skripsi adalah dengan cara meminimalisir permintaan pasar. Untuk merealisasikan hal tersebut diperlukan upaya preventif yang mampu mengembalikan nilai-nilai kejujuran dan orisinalitas dalam diri mahasiswa. Upaya-upaya represif hanya dapat dilakukan jika terdapat sebuah kasus plagiasi atau penjiplakan hasil karya intelektual orang lain yang dilakukan para penyedia jasa. Namun hal ini jarang sekali ditemui dilapangan karena pada umumnya penyedia jasa menggunakan ide-ide orisinil yang kenudian dikomersialkan dalam membuat skripsi.

Wujud dari upaya preventif berkaitan dengan faktor internal diri mahasiswa dan faktor eksternal yaitu sistem serta kebijaksanaan kampus. Faktor internal meliputi peningkatan kemampuan menulis, presentasi dan argumentasi mahasiswa dengan cara mahasiswa dibiasakan dengan tugas-tugas membuat artikel atau karangan ilmiah untuk tiap-tiap mata kuliah pada semester awal. Selanjutnya tugas tersebut ditindak lanjuti dengan forum diskusi atau debat kelas untuk membahasnya secara ilmiah. Pada tahap ini idealnya dosen pengajar selalu berperan proaktif seperti menentukan tema, menunjukkan sumber referensi baik itu lewat internet maupun literatur-literatur buku, mengajarkan prosedur, teknis penulisan dan aturan-aturan dalam karangan ilmiah serta menanamkan nilai kejujuran dan orisinalitas yang tinggi dalam diri mahasiswa.

Tahap berikutnya adalah tugas simulasi skripsi yang idealya diberikan pada semester menengah karena biasanya mahasiswa telah mendapatkan teori mata kuliah Metodologi dan Penelitian. Bentuk simulasi sendiri tidak harus sama persis dengan proses skripsi dimana terdapat proses bimbingan, namun lebih ditekankan kepada hal-hal esensial skripsi seperti pembuatan outline dan aplikasi teknik penulisan sesuai dengan aturan dan prosedur yang ditetapkan oleh masing-masing Perguruan Tinggi. Agar mahasiswa tidak terbebani dalam proses edukasi semacam ini, simulasi dapat disinergikan dengan laporan hasil kerja praktek maupun KKN mahasiswa, dan untuk menyelesaikanya tanggung jawab tidak hanya dibebankan pada satu individu tetapi berkelompok.

Setelah semua proses tersebut dijalankan secara baik dan sistimatis, diharapkan akan tercipta mahasiswa dengan karakter mental percaya diri serta didukung oleh tingkat kompetensi dalam tulis menulis dan penelitian yang cukup baik. Logikanya jika kondisi ideal tersebut tercapai dapat memberi dampak signifikan bagi penurunan permintaan jasa pembuatan skripsi, karena pola berfikir mahasiswa yang menganggap skripsi sebagai sebuah momok yang pantas ditakutkan berubah menjadi skripsi adalah hal yang biasa dikerjakan.

Namun, kondisi ideal internal mahasiswa tersebut belum cukup kuat tanpa diimbangi dengan faktor eksternal yaitu kebijaksanaan kampus yang mendukung. Seperti penentuan standar prosedur bimbingan dan birokrasi yang kooperatif alias tidak mempersulit, pengadaan fasilitas yang memadai sebagai infrastruktur pendukung proses penelitian dan sumber referensi penelitian yang lengkap, serta bantuan biaya penelitian bagi mahasiswa yang kurang mampu. Jika semua kondisi ini dipenuhi bukan tidak mungkin kredibilitas institusi pendidikan di Indonesia akan kembali bersinar, tidak tercoreng lagi oleh praktik-praktik kontraproduktif seperti maraknya jasa pembuatan skripsi atau tesis.

Thomas Alva Edison pernah berkata "Untuk mencapai sebuah keberhasilan hanya diperlukan 1% bakat atau ilham, sedangkan 99% lainya adalah kerja keras". Kalau kita petik pesan positif dari kata-kata tersebut, tidak ada alasan lagi untuk malas atau bahkan takut mengerjakan skripsi, selama kita selalu rajin berlatih dan mau untuk bekerja keras niscaya kita akan mampu mencapai suatu hal yang sulit sekalipun.

0 Responses to "SkripsiPhobia"

Post a Comment