Please Read This!

Thnx for visiting my blog, mohon maaf kalau disana-sini masih terdapat kekurangan. Dan untuk memperbaiki blog ini kedepanya, maka saya memindahkanya ke alamat baru di www.al-mansur.info, saran dan kritikan konstruktif sangat saya nantikan demi kebaikan kedepan. Thnx and happy blogging! www.al-mansur.info

Pro Kontra RUU APP

Sabtu 4 maret 2006 yang lalu, harian Suara Merdeka memberitakan tentang demo di Bali yang menuntut penghentian pembahasan RUU anti pornografi dan pornoaksi (APP) yang saat ini sedang di godok oleh DPR. Fenomena ini menunjukkan bahwa saat ini terjadi pertentangan dua buah kepentingan dalam mayarakat yang saling menuntut untuk dipenuhi. Pihak pendukung RUU yang diwakili oleh sebagian masyarakat, LSM dan lembaga keagamaan menuntut agar DPR segera menyelesaikan RUU APP sebagai upaya preventif dan represif terhadap ancaman kebobrokan moral bangsa Indonesia. Di sisi lain pihak penentang yang diwakili sebagian seniman, budayawan dan sebagian kecil elemen masyarakat bersikukuh agar DPR menghentikan RUU tersebut, mereka berdalih RUU tersebut hanya akan mengebiri kreativitas berekspresi dan beraktualisasi diri dalam karya seni.

Sebagian besar pihak penentang RUU APP berpendapat bahwa "Hal-hal yang selama ini dinilai masyarakat sebagai bagian dari pornografi dan pornoaksi adalah murni karya seni dan semua itu tergantung dari cara kita memandangnya". Tidak ada yang salah dengan pendapat itu, hanya saja kurang tepat bila diterapkan dengan kondisi pola berfikir sebagian besar masyarakat saat ini. Karena faktanya, sebagian besar masyarakat masih mengedepankan nafsu dan birahi dalam memandang karya seni yang menampilkan aurat manusia, ketimbang menggunakan perseption of art.

Realitas tersebut mengindikasikan bahwa saat ini masyarakat belum siap dalam menghadapi kebebasan berekspresi dan beraktualisasi dalam seni yang terlalu bebas, mungkin akan berbeda kondisinya bila hal tersebut dilakukan di negara lain. Jika kondisi seperti ini tetap dipaksakan, masyarakat terus saja dijejali dengan suguhan hasil karya pembangkit nafsu berbendera "karya seni", yang terjadi adalah pengaktifan detonator bom waktu degradasi nilai-nilai moral bangsa Indonesia.

Boleh saja kita berekspresi sekreatif mungkin, namun hendaknya tetap arif dan bijaksana dalam menyuguhkan hasil karya yang sesuai dengan realitas kondisi pola berfikir sebagian besar masyarakat agar tidak berdampak negatif pada akhirnya. Ada nilai-nilai religi, social culture bangsa yang harus dikedepankan dalam berkarya. Biarkan DPR bekerja mencari titik temu lewat RUU APP yang mampu menjaga nilai-nilai positif moral bangsa dengan tetap berpegang teguh pada prinsip keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tulisan ini pernah dimuat sebagai Head Line surat pembaca harian Suara Merdeka edisi Minggu, 02 April 2006.

0 Responses to "Pro Kontra RUU APP"

Post a Comment